Rabu, 30 Mei 2012

Zaman Bercocok Tanam

Kelompok-kelompok kecil pada masa bercocok tanam makin bertambah
besar, karena masyarakat telah mulai menetap dan hidup lebih teratur.
Kelompok-kelompok perkampungan tumbuh menjadi kesatuan-kesatuan
yang lebih besar misalnya klan, marga dan sebagainya yang menjadi dasar
masyarakat Indonesia sekarang.


Kehidupan masyarakat menjadi semakin kompleks setelah mereka tidak
saja tinggal di goa-goa, tetapi juga memanfaatkan lahan-lahan terbuka
sebagai tempat tinggal. Dengan bertempat tinggal menetap mereka
mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk mengembangkan
teknologi pembuatan alat dari batu. Perubahan cara hidup dari mengembara
ke menetap akhirnya berpengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan
lainnya. Cara hidup berburu dan meramu secara berangsur-angsur mulai
ditinggalkan. Mereka memasuki tahapan baru yaitu bercocok tanam ini
merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangnan dan peradaban
manusia. Dengan penemuan-penemuan baru, mereka dapat menguasai
alam, terutama yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup
mereka. Ada jenis-jenis tumbuhan mulai dibudidayakan dan bermacammacam
binatang mulai dijinakkan.


Dengan perkembangannya cara bercocok tanam dan bertani, berarti
banyak hal yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut yang
tidak mungkin dapat dipenuhi sendiri. Kondisi inilah yang kemudian
mendorong munculnya kelompok-kelompok spesialis atau undagi, misalnya
kelompok ahli pembuatan rumah, pembuatan gerabah, dan pembuatan
alat-alat logam.
Gambar: Manusia purba sedang membuat alat
Sumber: Nugroho Notosusanto (1992: 20)
Pada tahapan berikutnya, kegiatan pertanian membutuhkan
satu organisasi yang lebih luas yang berfungsi untuk
mengelola dan mengatur kegiatan pertanian tersebut. Dari
organisasi itu kemudian menumbuhkan organisasi masyarakat
yang bersifat chiefdoms atau masyarakat yang sudah
berkepemimpinan. Dalam masyarakat yang demikian itu
sudah dapat dibedakan antara pemimpin dan yang dipimpin.
Pengakuan terhadap pemimpin tidak sekadar karena faktor
keturunan, tetapi juga dianggap mempunyai kekuatan yang
lebih dan berkedudukan tinggi. Para pemimpin tersebut
sesudah meninggal arwahnya tetap dihormati karena
kelebihan yang dimilikinya itu. Untuk menghormati sang
arwah, dibangunlah tempat-tempat pemujaan seperti tampak
pada peninggalan-peninggalan punden berundak. Selain dapat
menunjukan tempat pemujaan arwah, keberadaan punden
berundak juga dapat menjadi bukti adanya masyarakat yang sudah
berkepemimpinan. Punden berundak merupakan bangunan tempat
melakukan upacara bersama. Dalam melaksanakan upacara itu, juga
dipimpin oleh seorang pemimpin yang disegani oleh masyarakatnya.
Pada masa itu ada kemungkinan sudah terbentuk desa-desa kecil. Pada
mulanya hanya bentuk rumah agak kecil dan berdenah melingkar dengan
atap daun-daunan. Kemudian rumah seperti itu berkembang dengan bentuk
yang lebih besar yang dibangun di atas tiang penyangga. Rumah besar ini

bentuknya persegi panjang, dihuni oleh beberapa keluarga inti.
Di bawah tiang penyangga rumah digunakan untuk memelihara
ternak. Apabila musim panen tiba mereka berpindah sementara
di dekat ladang-ladang dengan membangun rumah atau gubukgubuk
darurat. Binatang-binatang piaraan mereka juga dibawa.
Tidak mustahil pada masa itu, mereka sudah menggunakan
bahasa untuk komunikasi. Para ahli menduga bahwa pada masa
bercocok tanam menetap ini, mereka sudah menggunakan
bahasa Melayu-Polenesia atau rumpun bahasa Austronesia.
Pada masa bercocok tanam mulai muncul kelompok-kelompok
profesi, hubungan perdagangan, dan adanya kontak-kontak
budaya menyebabkan kegiatan masyarakat semakin kompleks.
Situasi semacam itu tidak saja menunjukkan adanya pelapisan
masyarakat menurut kehlian dan pekerjaannya tetapi juga
Gambar: Rumah pada masa purba mendorong perkembangan teknologi yang mereka kuasai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar