Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

Dampak Negatif Zat Psikotropika

Dampak Negatif Zat Psikotropika Salah satu zat psikotropika yang tergolong zat sering digunakan adalah amfetamin untuk mengurangi berat badan karena menghilangkan rasa lapar. Amfetamin juga dapat menghilangkan rasa kantuk bahkan kadang dipakai olahragawan sebagai dopping (tetapi pemakaian dopping tidak sah).
Jika zat psikotropika digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan/kecanduan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem saraf pusat dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.

Dampak kecanduan narkoba dan/atau zat psikotropika:
Dampak terhadap fisik, antara lain gangguan pada sistem saraf, gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), gangguan pada kulit (dermatologis), dan gangguan pada paru-paru (pulmoner). Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengonsumsi obat pada waktunya).
Dampak terhadap psikis (rohani), antara lain lamban kerja, ceroboh, sering tegang dan gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga, agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal, sulit berkonsentrasi,
perasaan kesal dan tertekan, cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
Dampak sosial bagi pecandu zat psikotropika, antara lain gangguan mental, antisosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan, merepotkan dan menjadi beban keluarga, pendidikan menjadi terganggu, serta masa depan suram.

Ciri-Ciri Fisik Korban Ketergantungan Zat Adiktif dan Psikotropika
• Mengalami gangguan pada sistem saraf (neurologis), antara lain kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, dan kerusakan saraf tepi.
• Mengalami gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), antara lain infeksi akut otot jantung dan gangguan peredaran darah.
• Mengalami gangguan pada kulit (dermatologis), antara lain penanahan (abses), alergi, dan eksim.
• Mengalami gangguan pada paru-paru (pulmoner), antara lain penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas, dan pengerasan jaringan paru-paru.
• Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati, dan sulit tidur.
• Mengalami gangguan kesehatan reproduksi, yaitu pada endokrin, seperti penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
• Mengalami perubahan periode menstruasi (remaja perempuan), ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
Cara Pencegahan dan Penyembuhan Akibat Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika
Upaya menghentikan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika tidaklah mudah karena sifat ketagihan dan ketergantungan yang ditimbulkannya sangat kuat. Oleh sebab itu, upaya pengobatan harus diikuti dengan upaya pencegahan agar mantan pecandu tidak kembali lagi menjadi pecandu. Ada tiga tingkat pencegahan, yaitu:
• Pencegahan Primer, yaitu upaya pencegahan agar orang sehat tidak terlibat penyalahgunaan 

zat adiktif dan psikotropika. Pencegahan ini biasanya
dilakukan dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, dan pendekatan melalui keluarga.
• Pencegahan Sekunder, yaitu upaya pencegahan pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (terapi).
• Pencegahan Tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan.
Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika dalam Bidang Kesehatan

Zat Stimulan, yaitu zat yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran sehingga kemampuan beraktivitas akan meningkat selama beberapa jam. Jenis zat stimulan, antara lain kafein, kokain, dan amfetamin. Contoh zat stimulan yang sekarang disalahgunakan adalah shabu-shabu dan ekstasi.

Zat Depresan, yaitu zat yang menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Jenis zat adiktif depresan, antara lain opioda dan berbagai turunannya, seperti morfin dan heroin. Contoh yang disalahgunakan adalah putaw.

Zat Narkotika, yaitu zat analgesik kuat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dalam pembedahan. Zat yang termasuk kelompok narkotika adalah ganja, opium, dan kokain.
Alkohol, zat yang digunakan untuk membunuh kuman dan bakteri (sebagai desinfektan). Alkohol juga dipakai untuk mencuci alat-alat kedokteran.

Dampak Negatif Zat Psikotropika

Dampak Negatif Zat Psikotropika Salah satu zat psikotropika yang tergolong zat sering digunakan adalah amfetamin untuk mengurangi berat badan karena menghilangkan rasa lapar. Amfetamin juga dapat menghilangkan rasa kantuk bahkan kadang dipakai olahragawan sebagai dopping (tetapi pemakaian dopping tidak sah).
Jika zat psikotropika digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan/kecanduan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem saraf pusat dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.

Dampak kecanduan narkoba dan/atau zat psikotropika:
Dampak terhadap fisik, antara lain gangguan pada sistem saraf, gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), gangguan pada kulit (dermatologis), dan gangguan pada paru-paru (pulmoner). Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengonsumsi obat pada waktunya).
Dampak terhadap psikis (rohani), antara lain lamban kerja, ceroboh, sering tegang dan gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga, agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal, sulit berkonsentrasi,
perasaan kesal dan tertekan, cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
Dampak sosial bagi pecandu zat psikotropika, antara lain gangguan mental, antisosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan, merepotkan dan menjadi beban keluarga, pendidikan menjadi terganggu, serta masa depan suram.

Ciri-Ciri Fisik Korban Ketergantungan Zat Adiktif dan Psikotropika
• Mengalami gangguan pada sistem saraf (neurologis), antara lain kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, dan kerusakan saraf tepi.
• Mengalami gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), antara lain infeksi akut otot jantung dan gangguan peredaran darah.
• Mengalami gangguan pada kulit (dermatologis), antara lain penanahan (abses), alergi, dan eksim.
• Mengalami gangguan pada paru-paru (pulmoner), antara lain penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas, dan pengerasan jaringan paru-paru.
• Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati, dan sulit tidur.
• Mengalami gangguan kesehatan reproduksi, yaitu pada endokrin, seperti penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
• Mengalami perubahan periode menstruasi (remaja perempuan), ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
Cara Pencegahan dan Penyembuhan Akibat Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika
Upaya menghentikan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika tidaklah mudah karena sifat ketagihan dan ketergantungan yang ditimbulkannya sangat kuat. Oleh sebab itu, upaya pengobatan harus diikuti dengan upaya pencegahan agar mantan pecandu tidak kembali lagi menjadi pecandu. Ada tiga tingkat pencegahan, yaitu:
• Pencegahan Primer, yaitu upaya pencegahan agar orang sehat tidak terlibat penyalahgunaan 

zat adiktif dan psikotropika. Pencegahan ini biasanya
dilakukan dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, dan pendekatan melalui keluarga.
• Pencegahan Sekunder, yaitu upaya pencegahan pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (terapi).
• Pencegahan Tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan.
Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika dalam Bidang Kesehatan

Zat Stimulan, yaitu zat yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran sehingga kemampuan beraktivitas akan meningkat selama beberapa jam. Jenis zat stimulan, antara lain kafein, kokain, dan amfetamin. Contoh zat stimulan yang sekarang disalahgunakan adalah shabu-shabu dan ekstasi.

Zat Depresan, yaitu zat yang menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Jenis zat adiktif depresan, antara lain opioda dan berbagai turunannya, seperti morfin dan heroin. Contoh yang disalahgunakan adalah putaw.

Zat Narkotika, yaitu zat analgesik kuat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dalam pembedahan. Zat yang termasuk kelompok narkotika adalah ganja, opium, dan kokain.
Alkohol, zat yang digunakan untuk membunuh kuman dan bakteri (sebagai desinfektan). Alkohol juga dipakai untuk mencuci alat-alat kedokteran.

Selasa, 17 April 2012

Pelapukan Biologi , Pelapukan Fisika dan Pelapukan Kimiawi

PELAPUKAN

Pengertian Pelapukan
Pelapukan adalah proses pegrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Atau dapat juga diartikan, pelapukan merupakan proses-proses alami yang menghancurkan batuan.

Jenis Pelapukan
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:


- Pelapukan Biologi atau Organik
 merupakan pelapukan yang disebabkan oleh makhluk hidup.

Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang, tumbuhan dan manusia.
1. Binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
2. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi.
* Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya.
* Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan dapat merusak batuan.
3. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.

- Pelapukan Fisika atau Mekanik merupakan pelapukan yang disebabkan oleh proses fisika .
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukurannya.  
Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.

Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
1. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Pelapukan ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim gurun. Pada siang hari bersuhu panas maka batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut, hal ini dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.


2. Adapun pembekuan air di dalam batuan.
Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang. Jika air membeku maka volumenya akan mengembang dan menyebabkan tekanan, karena tekanan ini batu- batuan menjadi rusak atau pecah.

3. Berubahnya air garam menjadi kristal.
Pelapukan ini terjadi di daerah pantai. Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal, kristal garam ini yang merusak batuan.

- Pelapukan Kimiawi merupakan pelapukan yang menghancurkan masa batuan yang disertai perubahan struktur kimiawinya.

* Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). 

* Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.  

* Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi, hal ini karena di Indonesia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi. 


Pelapukan Biologi , Pelapukan Fisika dan Pelapukan Kimiawi

PELAPUKAN

Pengertian Pelapukan
Pelapukan adalah proses pegrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Atau dapat juga diartikan, pelapukan merupakan proses-proses alami yang menghancurkan batuan.

Jenis Pelapukan
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:


- Pelapukan Biologi atau Organik
 merupakan pelapukan yang disebabkan oleh makhluk hidup.

Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang, tumbuhan dan manusia.
1. Binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
2. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi.
* Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya.
* Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan dapat merusak batuan.
3. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.

- Pelapukan Fisika atau Mekanik merupakan pelapukan yang disebabkan oleh proses fisika .
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukurannya.  
Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.

Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
1. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Pelapukan ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim gurun. Pada siang hari bersuhu panas maka batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut, hal ini dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.


2. Adapun pembekuan air di dalam batuan.
Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang. Jika air membeku maka volumenya akan mengembang dan menyebabkan tekanan, karena tekanan ini batu- batuan menjadi rusak atau pecah.

3. Berubahnya air garam menjadi kristal.
Pelapukan ini terjadi di daerah pantai. Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal, kristal garam ini yang merusak batuan.

- Pelapukan Kimiawi merupakan pelapukan yang menghancurkan masa batuan yang disertai perubahan struktur kimiawinya.

* Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). 

* Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.  

* Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi, hal ini karena di Indonesia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi. 


Sabtu, 24 Maret 2012

Bahan Penyedap dan Pemberi Aroma

Hasil penyelidikan Dr. Ho Man Kwok pada tahun 1969,
mengungkapkan kasus yang dikenal dengan nama Chinese
Restaurant Syndrome (CRS). Dalam kasus tersebut dinyatakan
bahwa seseorang yang baru saja mengkonsumsi makanan
di restoran Cina mengalami gejala-gejala sebagai berikut:
merasa kesemutan pada punggung dan leher, rahang bawah,
leher bawah terasa panas, wajah berkeringat, sesak dada
bagian bawah, dan pusing kepala. Dari hasil penyelidikan
pada waktu itu diketahui bahwa penyebab utama timbulnya
gejala-gejala tersebut adalah penyedap rasa MSG (mononatrium
glutamat) yang terdapat dalam sup. Kadar MSG
dalam sup memang relatif sangat tinggi, ditambah lagi
kenyataan bahwa sup dihidangkan paling awal pada saat
perut masih kosong/lapar sehingga MSG dapat dengan
cepat terserap ke dalam darah dan menyebabkan timbulnya
gejala-gejala CRS tersebut.

Bahan penyedap rasa atau penegas rasa adalah zat yang
dapat meningkatkan cita rasa makanan. Penyedap berfungsi
menambah rasa nikmat dan menekan rasa yang tidak
diinginkan dari suatu bahan makanan.
Bahan-bahan yang termasuk dalam golongan ini ada
yang diperoleh dari alam berupa rempah-rempah (misalnya:
bawang putih, bawang bombay, pala, merica, ketumbar,
serai, pandan, daun salam, dan daun pandan) dan ada pula
yang sintetik.
Penyedap sintetik pada dasarnya merupakan tiruan dari
yang terdapat di alam, tetapi karena kebutuhannya jauh
melebihi dari yang tersedia maka sejauh mungkin dibuatlah
tiruannya. Penyedap sintetik yang sangat populer di
masyarakat adalah vetsin atau MSG (mononatrium glutamat).
Di pasaran, senyawa tersebut dikenal dengan beragam
merek dagang, misalnya Ajinomoto, Miwon, Sasa, Royco,
Maggi, dan lain sebagainya. MSG merupakan garam natrium
dari asam glutamat yang secara alami terdapat dalam protein
nabati maupun hewani. Daging, susu, ikan, dan kacangkacangan
mengandung sekitar 20% asam glutamat. Oleh
karena itu, tidak mengherankan bila kita mengkonsumsi
makanan yang mengandung asam glutamat akan terasa lezat
dan gurih meski tanpa bumbu-bumbu lain. Keunikan dari
MSG adalah bahwa meskipun tidak mempunyai cita rasa,
tetapi dapat membangkitkan cita rasa komponen-komponen
lain yang terkandung dalam bahan makanan. Sifat yang
semacam itu disebut dengan taste enhancer (penegas rasa).
Pemberi aroma adalah zat yang dapat memberikan aroma
tertentu pada makanan atau minuman, sehingga dapat
membangkitkan selera konsumen. Penambahan zat pemberi
aroma menyebabkan makanan memiliki daya tarik untuk
dinikmati. Zat pemberi aroma yang berasal dari bahan segar
atau ekstrak dari bahan alami, misalnya minyak atsiri dan
vanili. Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetik,
misalnya: amil asetat mempunyai cita rasa seperti pisang
ambon, amil kaproat (aroma apel), etil butirat (aroma nanas),
vanilin (aroma vanili), dan metil antranilat (aroma buah
anggur). Jeli merupakan salah satu contoh makanan yang
menggunakan zat pemberi aroma.

Bahan Penyedap dan Pemberi Aroma

Hasil penyelidikan Dr. Ho Man Kwok pada tahun 1969,
mengungkapkan kasus yang dikenal dengan nama Chinese
Restaurant Syndrome (CRS). Dalam kasus tersebut dinyatakan
bahwa seseorang yang baru saja mengkonsumsi makanan
di restoran Cina mengalami gejala-gejala sebagai berikut:
merasa kesemutan pada punggung dan leher, rahang bawah,
leher bawah terasa panas, wajah berkeringat, sesak dada
bagian bawah, dan pusing kepala. Dari hasil penyelidikan
pada waktu itu diketahui bahwa penyebab utama timbulnya
gejala-gejala tersebut adalah penyedap rasa MSG (mononatrium
glutamat) yang terdapat dalam sup. Kadar MSG
dalam sup memang relatif sangat tinggi, ditambah lagi
kenyataan bahwa sup dihidangkan paling awal pada saat
perut masih kosong/lapar sehingga MSG dapat dengan
cepat terserap ke dalam darah dan menyebabkan timbulnya
gejala-gejala CRS tersebut.

Bahan penyedap rasa atau penegas rasa adalah zat yang
dapat meningkatkan cita rasa makanan. Penyedap berfungsi
menambah rasa nikmat dan menekan rasa yang tidak
diinginkan dari suatu bahan makanan.
Bahan-bahan yang termasuk dalam golongan ini ada
yang diperoleh dari alam berupa rempah-rempah (misalnya:
bawang putih, bawang bombay, pala, merica, ketumbar,
serai, pandan, daun salam, dan daun pandan) dan ada pula
yang sintetik.
Penyedap sintetik pada dasarnya merupakan tiruan dari
yang terdapat di alam, tetapi karena kebutuhannya jauh
melebihi dari yang tersedia maka sejauh mungkin dibuatlah
tiruannya. Penyedap sintetik yang sangat populer di
masyarakat adalah vetsin atau MSG (mononatrium glutamat).
Di pasaran, senyawa tersebut dikenal dengan beragam
merek dagang, misalnya Ajinomoto, Miwon, Sasa, Royco,
Maggi, dan lain sebagainya. MSG merupakan garam natrium
dari asam glutamat yang secara alami terdapat dalam protein
nabati maupun hewani. Daging, susu, ikan, dan kacangkacangan
mengandung sekitar 20% asam glutamat. Oleh
karena itu, tidak mengherankan bila kita mengkonsumsi
makanan yang mengandung asam glutamat akan terasa lezat
dan gurih meski tanpa bumbu-bumbu lain. Keunikan dari
MSG adalah bahwa meskipun tidak mempunyai cita rasa,
tetapi dapat membangkitkan cita rasa komponen-komponen
lain yang terkandung dalam bahan makanan. Sifat yang
semacam itu disebut dengan taste enhancer (penegas rasa).
Pemberi aroma adalah zat yang dapat memberikan aroma
tertentu pada makanan atau minuman, sehingga dapat
membangkitkan selera konsumen. Penambahan zat pemberi
aroma menyebabkan makanan memiliki daya tarik untuk
dinikmati. Zat pemberi aroma yang berasal dari bahan segar
atau ekstrak dari bahan alami, misalnya minyak atsiri dan
vanili. Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetik,
misalnya: amil asetat mempunyai cita rasa seperti pisang
ambon, amil kaproat (aroma apel), etil butirat (aroma nanas),
vanilin (aroma vanili), dan metil antranilat (aroma buah
anggur). Jeli merupakan salah satu contoh makanan yang
menggunakan zat pemberi aroma.

Bahan Penyedap dan Pemberi Aroma

Hasil penyelidikan Dr. Ho Man Kwok pada tahun 1969,
mengungkapkan kasus yang dikenal dengan nama Chinese
Restaurant Syndrome (CRS). Dalam kasus tersebut dinyatakan
bahwa seseorang yang baru saja mengkonsumsi makanan
di restoran Cina mengalami gejala-gejala sebagai berikut:
merasa kesemutan pada punggung dan leher, rahang bawah,
leher bawah terasa panas, wajah berkeringat, sesak dada
bagian bawah, dan pusing kepala. Dari hasil penyelidikan
pada waktu itu diketahui bahwa penyebab utama timbulnya
gejala-gejala tersebut adalah penyedap rasa MSG (mononatrium
glutamat) yang terdapat dalam sup. Kadar MSG
dalam sup memang relatif sangat tinggi, ditambah lagi
kenyataan bahwa sup dihidangkan paling awal pada saat
perut masih kosong/lapar sehingga MSG dapat dengan
cepat terserap ke dalam darah dan menyebabkan timbulnya
gejala-gejala CRS tersebut.

Bahan penyedap rasa atau penegas rasa adalah zat yang
dapat meningkatkan cita rasa makanan. Penyedap berfungsi
menambah rasa nikmat dan menekan rasa yang tidak
diinginkan dari suatu bahan makanan.
Bahan-bahan yang termasuk dalam golongan ini ada
yang diperoleh dari alam berupa rempah-rempah (misalnya:
bawang putih, bawang bombay, pala, merica, ketumbar,
serai, pandan, daun salam, dan daun pandan) dan ada pula
yang sintetik.
Penyedap sintetik pada dasarnya merupakan tiruan dari
yang terdapat di alam, tetapi karena kebutuhannya jauh
melebihi dari yang tersedia maka sejauh mungkin dibuatlah
tiruannya. Penyedap sintetik yang sangat populer di
masyarakat adalah vetsin atau MSG (mononatrium glutamat).
Di pasaran, senyawa tersebut dikenal dengan beragam
merek dagang, misalnya Ajinomoto, Miwon, Sasa, Royco,
Maggi, dan lain sebagainya. MSG merupakan garam natrium
dari asam glutamat yang secara alami terdapat dalam protein
nabati maupun hewani. Daging, susu, ikan, dan kacangkacangan
mengandung sekitar 20% asam glutamat. Oleh
karena itu, tidak mengherankan bila kita mengkonsumsi
makanan yang mengandung asam glutamat akan terasa lezat
dan gurih meski tanpa bumbu-bumbu lain. Keunikan dari
MSG adalah bahwa meskipun tidak mempunyai cita rasa,
tetapi dapat membangkitkan cita rasa komponen-komponen
lain yang terkandung dalam bahan makanan. Sifat yang
semacam itu disebut dengan taste enhancer (penegas rasa).
Pemberi aroma adalah zat yang dapat memberikan aroma
tertentu pada makanan atau minuman, sehingga dapat
membangkitkan selera konsumen. Penambahan zat pemberi
aroma menyebabkan makanan memiliki daya tarik untuk
dinikmati. Zat pemberi aroma yang berasal dari bahan segar
atau ekstrak dari bahan alami, misalnya minyak atsiri dan
vanili. Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetik,
misalnya: amil asetat mempunyai cita rasa seperti pisang
ambon, amil kaproat (aroma apel), etil butirat (aroma nanas),
vanilin (aroma vanili), dan metil antranilat (aroma buah
anggur). Jeli merupakan salah satu contoh makanan yang
menggunakan zat pemberi aroma.

Jumat, 23 Maret 2012

Bahan Pewarna






Pewarna Alami



Pewarna alami merupakan pewarna yang diperoleh dari
bahan-bahan alami, baik nabati, hewani, ataupun mineral.
Beberapa pewarna alami yang banyak dikenal masyarakat
misalnya daun suji untuk membuat warna hijau, kunyit
untuk warna kuning, daun jati atau cabai untuk warna
merah, dan gula merah untuk warna coklat. Zat pewarna
alami ini lebih aman digunakan bila dibandingkan dengan
pewarna sintetik. Penggunaan pewarna alami relatif
terbatas, karena adanya beberapa kekurangan antara lain:
· Sering terkesan memberikan rasa khas yang tidak
diinginkan, misalnya kunyit.
· Konsentrasi pigmen rendah, sehingga memerlukan
bahan baku relatif banyak.
· Stabilitas pigmen rendah (umumnya hanya stabil
pada tingkat keasaman/pH tertentu).
· Keseragaman warna kurang baik.
Pewarna oranye, merah dan biru secara alami terdapat
pada buah anggur, stroberi, rasberi, apel, dan bunga. Untuk
memberikan warna kuning, merah, dan oranye dapat
digunakan pewarna yang berasal dari tumbuhan dan hewan,
seperti wortel, tomat, cabai, minyak sawit, jagung, daundaunan,
dan ikan salmon.
Bahan makanan yang sering menggunakan pewarna ini
di antaranya margarin, keju, sup, puding, es krim, dan mi.
Klorofil memberikan warna hijau yang peka terhadap
cahaya dan asam. Korofil diperoleh dari daun-daunan yang
digunakan oleh masyarakat luas sejak dahulu. Kurkumin
merupakan zat warna alami yang terdapat dalam tanaman
kunyit (Zingiberaceae). Zat warna ini dapat digunakan pada

makanan atau minuman yang tidak beralkohol, misalnya
nasi kuning, tahu, temulawak, dan sari buah.


Pewarna Identik Alami


Pewarna identik alami adalah pigmen yang dibuat secara
sintetik tetapi struktur kimianya mirip dengan pewarna
alami. Contohnya, santoxantin (merah), apokaroten (merahoranye),
dan beta-karoten (oranye sampai kuning).
Penggunaan pewarna identik alami hanya boleh dalam
konsentrasi tertentu, kecuali beta karoten yang boleh
digunakan dalam jumlah tidak terbatas.


Pewarna Sintetik


Di negara-negara maju, penggunaan pewarna sintetik
untuk makanan harus melalui pengujian yang ketat demi
keselamatan konsumen. Pewarna yang telah melewati
pengujian-pengujian tersebut dan yang diijinkan
pemakaiannya untuk makanan dinamakan permitted colour
atau certified colour.

Beberapa kelebihan pewarna sintetik antara lain,
warnanya seragam, tajam, mengembalikan warna asli yang
mungkin hilang selama proses pengolahan, melindungi zatzat
vitamin yang peka terhadap cahaya selama
penyimpanan, dan hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
Seiring dengan meluasnya pemakaian pewarna sintetik,
sering terjadi penyalahgunaan pewarna pada makanan.
Sebagai contoh digunakannya pewarna tekstil untuk
makanan sehingga membahayakan konsumen. Zat pewarna
tekstil dan pewarna cat biasanya mengandung logam berat,
seperti: arsen, timbal, dan raksa sehingga bersifat racun.

Bahan Pewarna






Pewarna Alami



Pewarna alami merupakan pewarna yang diperoleh dari
bahan-bahan alami, baik nabati, hewani, ataupun mineral.
Beberapa pewarna alami yang banyak dikenal masyarakat
misalnya daun suji untuk membuat warna hijau, kunyit
untuk warna kuning, daun jati atau cabai untuk warna
merah, dan gula merah untuk warna coklat. Zat pewarna
alami ini lebih aman digunakan bila dibandingkan dengan
pewarna sintetik. Penggunaan pewarna alami relatif
terbatas, karena adanya beberapa kekurangan antara lain:
· Sering terkesan memberikan rasa khas yang tidak
diinginkan, misalnya kunyit.
· Konsentrasi pigmen rendah, sehingga memerlukan
bahan baku relatif banyak.
· Stabilitas pigmen rendah (umumnya hanya stabil
pada tingkat keasaman/pH tertentu).
· Keseragaman warna kurang baik.
Pewarna oranye, merah dan biru secara alami terdapat
pada buah anggur, stroberi, rasberi, apel, dan bunga. Untuk
memberikan warna kuning, merah, dan oranye dapat
digunakan pewarna yang berasal dari tumbuhan dan hewan,
seperti wortel, tomat, cabai, minyak sawit, jagung, daundaunan,
dan ikan salmon.
Bahan makanan yang sering menggunakan pewarna ini
di antaranya margarin, keju, sup, puding, es krim, dan mi.
Klorofil memberikan warna hijau yang peka terhadap
cahaya dan asam. Korofil diperoleh dari daun-daunan yang
digunakan oleh masyarakat luas sejak dahulu. Kurkumin
merupakan zat warna alami yang terdapat dalam tanaman
kunyit (Zingiberaceae). Zat warna ini dapat digunakan pada

makanan atau minuman yang tidak beralkohol, misalnya
nasi kuning, tahu, temulawak, dan sari buah.


Pewarna Identik Alami


Pewarna identik alami adalah pigmen yang dibuat secara
sintetik tetapi struktur kimianya mirip dengan pewarna
alami. Contohnya, santoxantin (merah), apokaroten (merahoranye),
dan beta-karoten (oranye sampai kuning).
Penggunaan pewarna identik alami hanya boleh dalam
konsentrasi tertentu, kecuali beta karoten yang boleh
digunakan dalam jumlah tidak terbatas.


Pewarna Sintetik


Di negara-negara maju, penggunaan pewarna sintetik
untuk makanan harus melalui pengujian yang ketat demi
keselamatan konsumen. Pewarna yang telah melewati
pengujian-pengujian tersebut dan yang diijinkan
pemakaiannya untuk makanan dinamakan permitted colour
atau certified colour.

Beberapa kelebihan pewarna sintetik antara lain,
warnanya seragam, tajam, mengembalikan warna asli yang
mungkin hilang selama proses pengolahan, melindungi zatzat
vitamin yang peka terhadap cahaya selama
penyimpanan, dan hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
Seiring dengan meluasnya pemakaian pewarna sintetik,
sering terjadi penyalahgunaan pewarna pada makanan.
Sebagai contoh digunakannya pewarna tekstil untuk
makanan sehingga membahayakan konsumen. Zat pewarna
tekstil dan pewarna cat biasanya mengandung logam berat,
seperti: arsen, timbal, dan raksa sehingga bersifat racun.

Bahan Pewarna






Pewarna Alami



Pewarna alami merupakan pewarna yang diperoleh dari
bahan-bahan alami, baik nabati, hewani, ataupun mineral.
Beberapa pewarna alami yang banyak dikenal masyarakat
misalnya daun suji untuk membuat warna hijau, kunyit
untuk warna kuning, daun jati atau cabai untuk warna
merah, dan gula merah untuk warna coklat. Zat pewarna
alami ini lebih aman digunakan bila dibandingkan dengan
pewarna sintetik. Penggunaan pewarna alami relatif
terbatas, karena adanya beberapa kekurangan antara lain:
· Sering terkesan memberikan rasa khas yang tidak
diinginkan, misalnya kunyit.
· Konsentrasi pigmen rendah, sehingga memerlukan
bahan baku relatif banyak.
· Stabilitas pigmen rendah (umumnya hanya stabil
pada tingkat keasaman/pH tertentu).
· Keseragaman warna kurang baik.
Pewarna oranye, merah dan biru secara alami terdapat
pada buah anggur, stroberi, rasberi, apel, dan bunga. Untuk
memberikan warna kuning, merah, dan oranye dapat
digunakan pewarna yang berasal dari tumbuhan dan hewan,
seperti wortel, tomat, cabai, minyak sawit, jagung, daundaunan,
dan ikan salmon.
Bahan makanan yang sering menggunakan pewarna ini
di antaranya margarin, keju, sup, puding, es krim, dan mi.
Klorofil memberikan warna hijau yang peka terhadap
cahaya dan asam. Korofil diperoleh dari daun-daunan yang
digunakan oleh masyarakat luas sejak dahulu. Kurkumin
merupakan zat warna alami yang terdapat dalam tanaman
kunyit (Zingiberaceae). Zat warna ini dapat digunakan pada

makanan atau minuman yang tidak beralkohol, misalnya
nasi kuning, tahu, temulawak, dan sari buah.


Pewarna Identik Alami


Pewarna identik alami adalah pigmen yang dibuat secara
sintetik tetapi struktur kimianya mirip dengan pewarna
alami. Contohnya, santoxantin (merah), apokaroten (merahoranye),
dan beta-karoten (oranye sampai kuning).
Penggunaan pewarna identik alami hanya boleh dalam
konsentrasi tertentu, kecuali beta karoten yang boleh
digunakan dalam jumlah tidak terbatas.


Pewarna Sintetik


Di negara-negara maju, penggunaan pewarna sintetik
untuk makanan harus melalui pengujian yang ketat demi
keselamatan konsumen. Pewarna yang telah melewati
pengujian-pengujian tersebut dan yang diijinkan
pemakaiannya untuk makanan dinamakan permitted colour
atau certified colour.

Beberapa kelebihan pewarna sintetik antara lain,
warnanya seragam, tajam, mengembalikan warna asli yang
mungkin hilang selama proses pengolahan, melindungi zatzat
vitamin yang peka terhadap cahaya selama
penyimpanan, dan hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
Seiring dengan meluasnya pemakaian pewarna sintetik,
sering terjadi penyalahgunaan pewarna pada makanan.
Sebagai contoh digunakannya pewarna tekstil untuk
makanan sehingga membahayakan konsumen. Zat pewarna
tekstil dan pewarna cat biasanya mengandung logam berat,
seperti: arsen, timbal, dan raksa sehingga bersifat racun.

Rabu, 21 Maret 2012

Bahan Pengawet



Pada tahun 90-an terjadi kasus biskuit beracun. Banyak
orang keracunan setelah mengkonsumsi biskuit. Sedikitnya
6 orang meninggal dunia dan puluhan orang dirawat di
rumah sakit. Bagaimana kasus tersebut bisa terjadi? Hasil
penyelidikan menunjukkan bahwa dalam biskuit beracun
tersebut terkandung bahan natrium nitrit dalam jumlah
berlebihan. Mengapa dalam biskuit terdapat natrium nitrit?
Bahan pengawet adalah bahan kimia yang dapat
mencegah atau menghambat proses fermentasi
(pembusukan), pengasaman, atau peruraian lain terhadap
makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme sehingga
makanan tidak mudah rusak atau menjadi busuk.
Bahan pengawet tradisional telah dikembangkan sejak
ratusan tahun lalu, seperti garam dapur, gula, cuka, dan
lada. Ikan laut biasa diawetkan dengan cara pengasinan.
Buah-buahan diawetkan dengan cara dijadikan manisan.
Makanan lauk-pauk bisa diawetkan dengan dibumbui lada
dan cuka.
Garam dapur biasanya digunakan untuk mengawetkan
daging dan ikan agar tidak mudah busuk. Garam dapur
berfungsi untuk menghambat pembiakan bakteri seperti
mikroorganisme clostridium botulinum. Jika bakteri ini
berkembang biak pada makanan akan menghasilkan racun
yang dapat meracuni daging. Gula merah atau gula pasir
bisa digunakan untuk mengawetkan buah-buahan. Bahan
yang akan diawetkan direndam dalam larutan gula, keadaan
ini menyebabkan mikroorganisme sukar hidup.
Bahan pengawet buatan yang paling sering dipakai
adalah asam benzoat. Asam benzoat berfungsi untuk
mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri.
Penggunaan asam benzoat dengan kadar lebih dari 250 ppm
dapat memberikan efek samping berupa alergi. Adapun
pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan iritasi pada
lambung dan saluran pencernaan. Bahan lainnya adalah
natrium benzoat, natrium nitrat, dan asam sitrat. Bahan
pengawet untuk buah-buahan dalam kaleng, biasanya
digunakan gula atau garam yang dibuat dalam bentuk
manisan asinan. Asam propionat dapat digunakan untuk
mencegah tumbuhnya kapang pada roti dan kue kering.
Asam sorbat digunakan untuk mencegah tumbuhnya
kapang pada keju.

Dalam kasus biskuit beracun yang disajikan pada awal
sub bab ini, diduga terjadi akibat penggunaan garam nitrit
sebagai zat pengewet dalam jumlah berlebihan. Penggunaan
nitrit lebih dari 200 ppm dapat menyebabkan keracunan.
Bahan pengawet bersifat karsinogen, untuk itu batasan
penggunaan bahan pengawet sebaiknya sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesesehatan No. 722/ menkes/per/IX/
88. 
Akhir-akhir ini banyak terjadi penyalahgunaan bahan
pengawet, misalnya boraks dan formalin. Boraks sering
digunakan pada pengolahan bakso dan mi basah. Boraks
yang dikonsumsi terus-menerus dapat berakibat keracunan
dengan gejala muntah-muntah, diare, dan bahkan dapat
menyebabkan kematian. Di samping bersifat sebagai zat
pengawet boraks juga berfungsi sebagai pengenyal. Formalin
dengan kadar sekitar 40%, biasa digunakan pada proses
pengawetan spesimen biologi atau proses pengawetan
mayat.

Bahan Pengawet



Pada tahun 90-an terjadi kasus biskuit beracun. Banyak
orang keracunan setelah mengkonsumsi biskuit. Sedikitnya
6 orang meninggal dunia dan puluhan orang dirawat di
rumah sakit. Bagaimana kasus tersebut bisa terjadi? Hasil
penyelidikan menunjukkan bahwa dalam biskuit beracun
tersebut terkandung bahan natrium nitrit dalam jumlah
berlebihan. Mengapa dalam biskuit terdapat natrium nitrit?
Bahan pengawet adalah bahan kimia yang dapat
mencegah atau menghambat proses fermentasi
(pembusukan), pengasaman, atau peruraian lain terhadap
makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme sehingga
makanan tidak mudah rusak atau menjadi busuk.
Bahan pengawet tradisional telah dikembangkan sejak
ratusan tahun lalu, seperti garam dapur, gula, cuka, dan
lada. Ikan laut biasa diawetkan dengan cara pengasinan.
Buah-buahan diawetkan dengan cara dijadikan manisan.
Makanan lauk-pauk bisa diawetkan dengan dibumbui lada
dan cuka.
Garam dapur biasanya digunakan untuk mengawetkan
daging dan ikan agar tidak mudah busuk. Garam dapur
berfungsi untuk menghambat pembiakan bakteri seperti
mikroorganisme clostridium botulinum. Jika bakteri ini
berkembang biak pada makanan akan menghasilkan racun
yang dapat meracuni daging. Gula merah atau gula pasir
bisa digunakan untuk mengawetkan buah-buahan. Bahan
yang akan diawetkan direndam dalam larutan gula, keadaan
ini menyebabkan mikroorganisme sukar hidup.
Bahan pengawet buatan yang paling sering dipakai
adalah asam benzoat. Asam benzoat berfungsi untuk
mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri.
Penggunaan asam benzoat dengan kadar lebih dari 250 ppm
dapat memberikan efek samping berupa alergi. Adapun
pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan iritasi pada
lambung dan saluran pencernaan. Bahan lainnya adalah
natrium benzoat, natrium nitrat, dan asam sitrat. Bahan
pengawet untuk buah-buahan dalam kaleng, biasanya
digunakan gula atau garam yang dibuat dalam bentuk
manisan asinan. Asam propionat dapat digunakan untuk
mencegah tumbuhnya kapang pada roti dan kue kering.
Asam sorbat digunakan untuk mencegah tumbuhnya
kapang pada keju.

Dalam kasus biskuit beracun yang disajikan pada awal
sub bab ini, diduga terjadi akibat penggunaan garam nitrit
sebagai zat pengewet dalam jumlah berlebihan. Penggunaan
nitrit lebih dari 200 ppm dapat menyebabkan keracunan.
Bahan pengawet bersifat karsinogen, untuk itu batasan
penggunaan bahan pengawet sebaiknya sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesesehatan No. 722/ menkes/per/IX/
88. 
Akhir-akhir ini banyak terjadi penyalahgunaan bahan
pengawet, misalnya boraks dan formalin. Boraks sering
digunakan pada pengolahan bakso dan mi basah. Boraks
yang dikonsumsi terus-menerus dapat berakibat keracunan
dengan gejala muntah-muntah, diare, dan bahkan dapat
menyebabkan kematian. Di samping bersifat sebagai zat
pengawet boraks juga berfungsi sebagai pengenyal. Formalin
dengan kadar sekitar 40%, biasa digunakan pada proses
pengawetan spesimen biologi atau proses pengawetan
mayat.