Anda tak percaya ? Sekarang mulailah untuk mempersiapkan tikar karena kita akan bertualang sejenak ke kebun belakang rumah. Begini ceritanya….
Negara-negara maju telah mengembangkan energi alternatif yang dapat menggantikan peranan minyak bumi dan sumber bahan alam (terutama galian) yang berfungsi sebagai bahan bakar. Cadangan minyak bumi yang semakin menipis karena peningkatan kebutuhan serta jumlah penduduk dunia yang bombastis (China saja jumlah penduduknya sudah 1 milyar…) adalah faktor pendorong giatnya ilmuwan dalam mencari sumber energi baru yang dapat diperbaharui, murah dan aman bagi lingkungan (terutama yang berasal dari nabati).
Beberapa bahan bakar alternatif yang popular adalah biodiesel, biogas, biofuel, hydrogen dan energi nuklir. Biofuel adalah salah satu turunan dari biomassa. Biofuel merupakan bahan bakar yang berasal dari tumbuhan atau hewan, biasanya dari pertanian, sisa padatan juga hasil hutan.
Coba kita lihat biofuel, khususnya etanol. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, tanaman-tanaman seperti Jagung, Tebu dan Singkong dapat dikonversi menjadi bahan bakar.
Kebetulan beberapa waktu yang lalu menemukan cara pembuatan etanol dari singkong yang diterapkan oleh Bapak Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari :
1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku
3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.
4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati
5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.
7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol
8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.
9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100″C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Juni 2012
Selasa, 05 Juni 2012
Bahan Kimia Pembasmi Serangga (Insektisida)
Serangga pengganggu yang sering kita jumpai di rumah
tangga, diantaranya adalah nyamuk, kecoa, lalat, dan semut.
Nyamuk adalah serangga pengganggu di rumah tangga
yang paling dominan terutama di kota-kota dataran rendah.
Oleh karena itu anti nyamuk (obat nyamuk) merupakan
bahan yang diperlukan masyarakat sehari-hari.
Anti nyamuk dikemas sesuai dengan cara-cara aplikasinya; ada
yang dibakar, difumigasi secara elektrik, dioleskan pada
permukaan kulit, dan disemprotkan. Khasiat dari bahan
pengusir atau pembasmi serangga ditentukan oleh bahan
kimia (bahan aktif) yang terkandung di dalamnya.
Transflutrin adalah salah satu contoh bahan aktif anti nyamuk
berbentuk padatan lingkar berwarna hijau. Anti nyamuk
bakar ini diambil khasiatnya melalui asapnya yang
menyebar ke seluruh ruangan.
Kamu dapat mengidentifikasi bahan kimia aktif yang
terkandung pada setiap anti nyamuk yang beredar di
masyarakat dimana kamu tinggal. Jangan membuang begitu
saja wadah atau kemasan anti nyamuk yang pernah kamu
pakai. Kemasan anti nyamuk, juga produk-produk lain
umumnya mencantumkan bahan-bahan kimia yang
dikandungnya. Kamu dapat mengidentifikasi bahan-bahan
kimia penyusun setiap produk dari kemasannya.
Saat ini mulailah dengan mengenal nama-nama bahan
kimia itu. Kalau saat kamu tidak mengetahui rumus
kimianya, tidak masalah, yang penting mengetahui
khasiatnya. Selain itu, yang juga penting untuk diketahui
adalah efek samping yang dapat ditimbulkan terutama bagi
kesehatan kita maupun kelestarian lingkungan. Oleh karena
itu, perusahaan-perusahaan besar yang bijaksana selalu
memberi peringatan-peringatan kepada kita terkait dengan
penggunaan bahan-bahan ini.
tangga, diantaranya adalah nyamuk, kecoa, lalat, dan semut.
Nyamuk adalah serangga pengganggu di rumah tangga
yang paling dominan terutama di kota-kota dataran rendah.
Oleh karena itu anti nyamuk (obat nyamuk) merupakan
bahan yang diperlukan masyarakat sehari-hari.
Anti nyamuk dikemas sesuai dengan cara-cara aplikasinya; ada
yang dibakar, difumigasi secara elektrik, dioleskan pada
permukaan kulit, dan disemprotkan. Khasiat dari bahan
pengusir atau pembasmi serangga ditentukan oleh bahan
kimia (bahan aktif) yang terkandung di dalamnya.
Transflutrin adalah salah satu contoh bahan aktif anti nyamuk
berbentuk padatan lingkar berwarna hijau. Anti nyamuk
bakar ini diambil khasiatnya melalui asapnya yang
menyebar ke seluruh ruangan.
Kamu dapat mengidentifikasi bahan kimia aktif yang
terkandung pada setiap anti nyamuk yang beredar di
masyarakat dimana kamu tinggal. Jangan membuang begitu
saja wadah atau kemasan anti nyamuk yang pernah kamu
pakai. Kemasan anti nyamuk, juga produk-produk lain
umumnya mencantumkan bahan-bahan kimia yang
dikandungnya. Kamu dapat mengidentifikasi bahan-bahan
kimia penyusun setiap produk dari kemasannya.
Saat ini mulailah dengan mengenal nama-nama bahan
kimia itu. Kalau saat kamu tidak mengetahui rumus
kimianya, tidak masalah, yang penting mengetahui
khasiatnya. Selain itu, yang juga penting untuk diketahui
adalah efek samping yang dapat ditimbulkan terutama bagi
kesehatan kita maupun kelestarian lingkungan. Oleh karena
itu, perusahaan-perusahaan besar yang bijaksana selalu
memberi peringatan-peringatan kepada kita terkait dengan
penggunaan bahan-bahan ini.
Beberapa Kelainan/Gangguan pada Sistem Peredaran Darah.
Luka bisa menyebabkan kehilangan darah yang parah.
Trombosit menyebabkan darah membeku, menutup luka
kecil, tetapi luka besar perlu dirawat dengan segera untuk
mencegah terjadinya kekurangan darah. Kerusakan pada
organ dalam bisa menyebabkan luka dalam yang parah atau
hemorrhage.
Hemofilia merupakan kelainan genetik yang
menyebabkan kegagalan fungsi dalam pembekuan darah
seseorang. Akibatnya, luka kecil dapat membahayakan
nyawa.
Leukemia merupakan kanker pada jaringan tubuh
pembentuk sel darah putih. Penyakit ini terjadi akibat
kesalahan pada pembelahan sel darah putih yang
mengakibatkan jumlah sel darah putih meningkat dan
kemudian memakan sel darah putih yang normal.
Pendarahan hebat, baik karena kecelakaan atau bukan
(seperti pada operasi), dan juga penyakit darah seperti anemia
dan thalassemia, yang memerlukan transfusi darah.
Beberapa negara mempunyai bank darah untuk memenuhi
permintaan untuk transfusi darah. Penerima darah perlu
mempunyai jenis darah yang sama dengan penyumbang.
Darah juga merupakan salah satu “vektor” dalam
penularan penyakit. Salah satu contoh penyakit yang dapat
ditularkan melalui darah adalah AIDS. Darah yang
mengandung virus HIV dari makhluk hidup yang HIV
positif dapat menular pada makhluk hidup lain melalui
sentuhan antara darah dengan darah, sperma, atau cairan
tubuh makhluk hidup tersebut. Oleh karena penularan
penyakit dapat terjadi melalui darah, objek yang
mengandung darah dianggap sebagai biohazard atau ancaman
biologis.
Trombosit menyebabkan darah membeku, menutup luka
kecil, tetapi luka besar perlu dirawat dengan segera untuk
mencegah terjadinya kekurangan darah. Kerusakan pada
organ dalam bisa menyebabkan luka dalam yang parah atau
hemorrhage.
Hemofilia merupakan kelainan genetik yang
menyebabkan kegagalan fungsi dalam pembekuan darah
seseorang. Akibatnya, luka kecil dapat membahayakan
nyawa.
Leukemia merupakan kanker pada jaringan tubuh
pembentuk sel darah putih. Penyakit ini terjadi akibat
kesalahan pada pembelahan sel darah putih yang
mengakibatkan jumlah sel darah putih meningkat dan
kemudian memakan sel darah putih yang normal.
Pendarahan hebat, baik karena kecelakaan atau bukan
(seperti pada operasi), dan juga penyakit darah seperti anemia
dan thalassemia, yang memerlukan transfusi darah.
Beberapa negara mempunyai bank darah untuk memenuhi
permintaan untuk transfusi darah. Penerima darah perlu
mempunyai jenis darah yang sama dengan penyumbang.
Darah juga merupakan salah satu “vektor” dalam
penularan penyakit. Salah satu contoh penyakit yang dapat
ditularkan melalui darah adalah AIDS. Darah yang
mengandung virus HIV dari makhluk hidup yang HIV
positif dapat menular pada makhluk hidup lain melalui
sentuhan antara darah dengan darah, sperma, atau cairan
tubuh makhluk hidup tersebut. Oleh karena penularan
penyakit dapat terjadi melalui darah, objek yang
mengandung darah dianggap sebagai biohazard atau ancaman
biologis.
Minggu, 03 Juni 2012
Daftar Nama Tumbuhan dan Nama Latinnya
Nama Tanaman Hias atau Bunga dan Nama Latin
- Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis)
- Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata)
- Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum)
- Bunga Bangkai (Amorphpophallus titanium)
- Cempaka Putih (Michelia alba)
- Cempaka Kuning (Michelia champaka)
- Cempaka Telor (Magnolia coco)
- Edelweis Jawa (Anaphalis javanica)
- Kenanga (Cananga odorata)
- Melati Gambir (Jasminum pubescens)
- Melati Putih (Jasminus sambac)
- Nibung (Oncosperma tigillarium)
Nama Tumbuhan Obat dan Nama Latin
- Ciplukan (Physalis angulata)
- Gambir (Uncaria gambir)
- Mengkudu (Morinda citrifolia)
- Sirih (Piper betle)
- Zodia (Evodia suaveolens)
Nama Tumbuhan Buah dan Nama Latin
- Alpukat (Persea americana)
- Apel (Pyrus malus)
- Belimbing Manis (Averrhoa carambola)
- Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi)
- Ceremai (Phyllanthus acidus)
- Delima (Punica granatum)
- Durian (Durio zibethinus)
- Duwet (Syzygium cumini)
- Gayam (Inocarpus fagiferus)
- Jambu Air (Eugenia aquea)
- Jeruk Manis (Citrus sinensis)
- Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
- Kasturi (Mangifera casturi)
- Kawista (Limonia acidissima)
- Kedoya (Dysoxylum gaudichaudianum)
- Kemang (Mangifera kemanga)
- Kelapa (Cocos nucifera)
- Kepa (Syzygium polycephalum)
- Kepel (Stelechocarpus burahol)
- Kersen (Muntingia calabura)
- Korma rawa (Phoenix paludosa)
- Lontar (Borassus flabellifer)
- Mangga (Mangifera indica)
- Manggis (Garcinia mangostana)
- Matoa (Pometia pinnata)
- Menteng (Baccaurea racemosa)
- Mundu (Garcinia dulcis)
- Nam Nam (Cynometra cauliflora)
- Nangka (Artocarpus heterophyllus)
- Pisang (Musa paradisiaca)
- Pepaya (Carica papaya)
- Rambutan (Nephelium lappaceum)
- Salak (Salacca zalacca)
- Sawo Kecik (Manilkara kauki)
- Sawo Manila (Manilkara zapota)
Nama Tanaman Keras dan Nama Latin
- Ajan Kelicung (Diospyros macrophylla)
- Andalas (Morus macroura)
- Baobab (Adansonia Digitata)
- Bintaro (Cerbera manghas)
- Eboni (Diospyros celebica)
- Gaharu (Aquilaria moluccensis)
- Gandaria (Bouea macrophylla)
- Jati (Tectona grandis)
- Karet (Hevea braziliensis)
- Kapuk Randu (Ceiba pentandra)
- Kenari (Canarium ovatum)
- Kendal (Cordia bantamensis)
- Kepuh (Sterculia foetida)
- Kokoleceran (Vatica bantamensis)
- Limpasu (Baccaurea lanceolata)
- Maja (Aegle marmelos)
- Majegau (Dysoxylum densiflorum)
- Nagasari (Palaquium rostratum)
- Trembesi (Albizia saman Sin. Samanea saman)
Nama Tanaman Umbi dan Rimpang dan Nama Latin
- Jahe (Zingiber officinale)
- Bengkuang (Pachyrhizus erosus)
- Garut (Maranta arundinacea)
- Ganyong (Canna edulis)
- Kedawung (Parkia roxburghii)
- Lengkuas (Alpinia galanga)
- Singkong (Manihot esculenta)
- Ubi Jalar (Ipomoea batatas)
Tumbuhan Rempah dan Nama Latin
- Asam Jawa (Tamarindus indica)
- Bawang Merah (Allium cepa)
- Bawang Putih (Allium sativum)
- Cabai (Capsicum annum)
- Cabai Rawit (Capsicum frutescens)
- Cengkeh (Syzygium aromaticum)
- Kencur (Kaempferia galanga)
- Lada (Piper nigrum)
- Pala (Myristica fragrans)
Tumbuhan Lainnya dan Nama Latin
- Jagung (Zea mays)
- Kacang Hijau (Vigna radiata)
- Kacang Kapri (Pisum sativum)
- Kacang Merah (Phaseolus vulgaris)
- Kacang Panjang (Phaseolus vulgaris)
- Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
- Kentang (Solanum tuberosum)
- Kesambi (Schleichera oleosa)
- Padi (Oryza sativa)
- Petai Cina (Leucaena leucocephala)
- Terung (Solanum melongena)
- Tuba (Derris elliptica)
Jumat, 01 Juni 2012
Membuat Yoghurt
Banyak orang suka minum susu tanpa gula, tetapi ada pula yang lebih
suka minum air susu bergula. Di beberapa negara air susu sedikit masam
merupakan minuman rakyat yang sangat digemari. Banyak orang yang
beranggapan, bahwa minum susu sedikit masam menyebabkan awet muda.
Air susu demikian itu di Mesir terkenal sebagai kumis, di Eropa Timur
sebagai yoghurt.
Yoghurt adalah suatu minuman yang dibuat dari susu sapi dengan cara
fermentasi oleh bakteri Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus.
Bakteri ini adalah bakteri asam laktat yang mengubah laktosa dari susu
biasa menjadi asam laktat.
Keasaman dari susu yang difermentasi pada umumnya cukup untuk
mencegah kerusakan oleh bakteri proteolitik yang tidak tahan asam. Setelah
mencapai tingkat keasaman dalam minuman tersebut maka dilakukan
pendinginan.
Selain dibuat dari susu segar, yoghurt dapat juga dibuat dari susu krim
(susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan
bergantung pada kekentalan produk yang diinginkan.
Yoghurt umumnya disajikan dengan menambah terlebih dahulu
campuran lain, seperti gula, sirup, ataupun kopi (ekstrak kopi). Penambahan
campuran-campuran ini tergantung selera. Adanya campuran-campuran
tersebut selain menambah kelezatan sering kali memperindah penampakan
sehingga mempertinggi mutunya. Kadang-kadang dalam pembuatannya
dapat ditambahkan aroma vanili, mocca, durian, dan nanas. Ini yang disebut
flavoured yoghurt. Pada flavoured yoghurt cukup ditambah gula dan bisa
langsung disajikan.
Produk-produk yang telah habis masa inkubasinya sebaiknya disimpan
di lemari pendingin, karena dengan demikian fermentasi tidak berlangsung
sehingga produk dapat disimpan lebih lama. Produk yang telah jadi dan
bagus, dapat digunakan sebagai starter pada pembuatan yoghurt selanjutnya.
1. Membuat Kelompok
Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4–5 orang.
2. Menyusun Jadwal Kegiatan
Susunlah jadwal kegiatan pembuat yoghurt ini. Buatlah jadwal selama
4–5 minggu untuk persiapan alat dan bahan serta proses pengerjaan.
3. Alat dan Bahan
a. Panci penangas
b. Seperangkat alat titrasi
c. Erlenmeyer 500 ml
d. Thermometer
e. Pengaduk kaca
f. Pembakar spiritus
g. Gelas ukur
h. Kertas alumunium foil
i. Susu sapi
j. Susu krim
k. Bibit/starter Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus
l. NaOH
m. Indikator Phenofthalein
4. Cara Pengerjaan
a. Pembuatan yoghurt
1. Panaskan 500 ml susu segar dengan cara memasukkan susu ke
dalam Erlenmeyer. Kemudian, Erlenmeyer ini dimasukkan ke
dalam paci besar yang telah berisi air (seperti membuat nasi
tim) hingga suhunya kurang lebih 90°C selama 15 menit.
2. Susu didinginkan sampai suhu mencapai 45°C, lalu ditambahkan
starter Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus
sebanyak 3–5% sedikit demi sedikit sambil diaduk supaya larut.
3. Campuran diletakkan ke dalam wadah-wadah steril yang sudah
disiapkan, kemudian tutup dengan alumunium foil dan
diinkubasikan pada suhu 43°C selama 4 jam atau pada suhu
kamar selama 18 jam.
4. Setelah inkubasi selesai, yoghurt yang dihasilkan segera
didinginkan dalam lemari es atau dipastuerisasikan pada suhu
65°C selam 30 menit agar fermentasi tidak terus berlanjut.
5. Pengamatan dilakukan dengan melihat harga pH, kandungan
asam laktat, rasa, jumlah mikroba, protein, dan kandungan
laktosanya.
6. Jika akan dikonsumsi bisa dicampur dengan sirup atau dengan
gula secukupnya.
b. Pembuatan bibit (starter) yoghurt
1. Campurkan susu segar dan susu bubuk skim (7,5% dari susu
segar) hingga merata.
2. Panaskan campuran susu tersebut dengan cara memasukkan susu
ke dalam Erlenmeyer. Kemudian, Erlenmeyer ini dimasukkan ke
dalam paci besar yang telah berisi air hingga suhunya kurang
lebih 90°C selama 15 menit.
3. Selanjutnya, dilakukan pendinginan sampa suhu mencapai
kurang lebih 43°C.
4. Masukkan bibit (starter) sebanyak 3–5% sedikit demi sedikit
sambil diaduk supaya larut.
5. Tutup dengan alumunium foil, peram hingga terjadi gumpalan
padat pada suhu 43°C selama 4 jam atau pada suhu kamar selama
18–20 jam.
6. Setelah pemeraman selesai, simpan dalam lemari es dan
dikeluarkan hanya pada saat digunakan.
suka minum air susu bergula. Di beberapa negara air susu sedikit masam
merupakan minuman rakyat yang sangat digemari. Banyak orang yang
beranggapan, bahwa minum susu sedikit masam menyebabkan awet muda.
Air susu demikian itu di Mesir terkenal sebagai kumis, di Eropa Timur
sebagai yoghurt.
Yoghurt adalah suatu minuman yang dibuat dari susu sapi dengan cara
fermentasi oleh bakteri Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus.
Bakteri ini adalah bakteri asam laktat yang mengubah laktosa dari susu
biasa menjadi asam laktat.
Keasaman dari susu yang difermentasi pada umumnya cukup untuk
mencegah kerusakan oleh bakteri proteolitik yang tidak tahan asam. Setelah
mencapai tingkat keasaman dalam minuman tersebut maka dilakukan
pendinginan.
Selain dibuat dari susu segar, yoghurt dapat juga dibuat dari susu krim
(susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan
bergantung pada kekentalan produk yang diinginkan.
Yoghurt umumnya disajikan dengan menambah terlebih dahulu
campuran lain, seperti gula, sirup, ataupun kopi (ekstrak kopi). Penambahan
campuran-campuran ini tergantung selera. Adanya campuran-campuran
tersebut selain menambah kelezatan sering kali memperindah penampakan
sehingga mempertinggi mutunya. Kadang-kadang dalam pembuatannya
dapat ditambahkan aroma vanili, mocca, durian, dan nanas. Ini yang disebut
flavoured yoghurt. Pada flavoured yoghurt cukup ditambah gula dan bisa
langsung disajikan.
Produk-produk yang telah habis masa inkubasinya sebaiknya disimpan
di lemari pendingin, karena dengan demikian fermentasi tidak berlangsung
sehingga produk dapat disimpan lebih lama. Produk yang telah jadi dan
bagus, dapat digunakan sebagai starter pada pembuatan yoghurt selanjutnya.
1. Membuat Kelompok
Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4–5 orang.
2. Menyusun Jadwal Kegiatan
Susunlah jadwal kegiatan pembuat yoghurt ini. Buatlah jadwal selama
4–5 minggu untuk persiapan alat dan bahan serta proses pengerjaan.
3. Alat dan Bahan
a. Panci penangas
b. Seperangkat alat titrasi
c. Erlenmeyer 500 ml
d. Thermometer
e. Pengaduk kaca
f. Pembakar spiritus
g. Gelas ukur
h. Kertas alumunium foil
i. Susu sapi
j. Susu krim
k. Bibit/starter Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus
l. NaOH
m. Indikator Phenofthalein
4. Cara Pengerjaan
a. Pembuatan yoghurt
1. Panaskan 500 ml susu segar dengan cara memasukkan susu ke
dalam Erlenmeyer. Kemudian, Erlenmeyer ini dimasukkan ke
dalam paci besar yang telah berisi air (seperti membuat nasi
tim) hingga suhunya kurang lebih 90°C selama 15 menit.
2. Susu didinginkan sampai suhu mencapai 45°C, lalu ditambahkan
starter Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus
sebanyak 3–5% sedikit demi sedikit sambil diaduk supaya larut.
3. Campuran diletakkan ke dalam wadah-wadah steril yang sudah
disiapkan, kemudian tutup dengan alumunium foil dan
diinkubasikan pada suhu 43°C selama 4 jam atau pada suhu
kamar selama 18 jam.
4. Setelah inkubasi selesai, yoghurt yang dihasilkan segera
didinginkan dalam lemari es atau dipastuerisasikan pada suhu
65°C selam 30 menit agar fermentasi tidak terus berlanjut.
5. Pengamatan dilakukan dengan melihat harga pH, kandungan
asam laktat, rasa, jumlah mikroba, protein, dan kandungan
laktosanya.
6. Jika akan dikonsumsi bisa dicampur dengan sirup atau dengan
gula secukupnya.
b. Pembuatan bibit (starter) yoghurt
1. Campurkan susu segar dan susu bubuk skim (7,5% dari susu
segar) hingga merata.
2. Panaskan campuran susu tersebut dengan cara memasukkan susu
ke dalam Erlenmeyer. Kemudian, Erlenmeyer ini dimasukkan ke
dalam paci besar yang telah berisi air hingga suhunya kurang
lebih 90°C selama 15 menit.
3. Selanjutnya, dilakukan pendinginan sampa suhu mencapai
kurang lebih 43°C.
4. Masukkan bibit (starter) sebanyak 3–5% sedikit demi sedikit
sambil diaduk supaya larut.
5. Tutup dengan alumunium foil, peram hingga terjadi gumpalan
padat pada suhu 43°C selama 4 jam atau pada suhu kamar selama
18–20 jam.
6. Setelah pemeraman selesai, simpan dalam lemari es dan
dikeluarkan hanya pada saat digunakan.
Peranan Bakteri bagi Kehidupan Manusia
Bakteri pada umumnya adalah heterotrof. Namun, ada juga bakteri yang
autotrof, seperti bakteri kemosintetik. Bakteri ini mendapat energi melalui
reaksi kombinasi oksigen dengan molekul anorganik, seperti sulfur, nitrit,
atau amonia. Dalam prosesnya, mereka melepaskan sulfur atau nitrat, yang
merupakan nutrisi penting bagi tumbuhan, ke dalam tanah.
Beberapa bakteri juga memiliki kemampuan untuk memecah selulosa,
komponen utama pembentuk dinding sel tumbuhan. Terdapat bakteri yang
memiliki simbiosis (hubungan hidup bersama) dengan mamalia ruminansia
(memamah biak, seperti sapi, kambing, domba). Bakteri ini hidup di saluran
pencernaan hewan memamah biak dan membantu mencerna makanan
berserat seperti rerumputan yang tidak dapat dicerna sendiri oleh hewan
tersebut. Simbiosis bakteri ini juga terdapat di dalam pencernaan Anda.
Bakteri ini menguraikan makanan yang tidak dapat tercerna dan mensintesis
vitamin seperti vitamin K dan B12.
Cyanobacteria mempunyai peranan dalam kehidupan manusia. Misalnya,
dalam ekosistem, Cyanobacteria berperan sebagai produsen dan makanan
bagi ikan-ikan kecil dan udang-udang kecil. Cyanobacteria juga dapat dijadikan
makanan. Contohnya Spirulina yang dapat dijadikan sumber makanan alternatif
dikarenakan kandungan proteinnya yang tinggi.
Anabaena, Cyanobacteria bersel satu, dapat bersimbiosis dengan paku
air Azolla pinnata. Anabaena mengikat nitrogen bebas dari udara sehingga
perairan cukup mengandung senyawa nitrogen yang dapat langsung
digunakan oleh tumbuhan lain. Anabaena dapat ditemukan di sawah-sawah
yang berair atau kolam yang dangkal.
Jenis simbiosis lain terjadi pada tumbuhan Leguminoseae dengan bakteri
pengikat nitrogen yang hidup pada nodul akar tumbuhan tersebut. Bakteri
ini menangkap gas nitrogen (N2) yang tidak dapat digunakan secara langsung
oleh tumbuhan dari udara dalam tanah. Kemudian, bakteri tersebut
menggabungkan nitrogen dengan hidrogen untuk menghasilkan amonium
(NH4+) yang merupakan nutrisi penting bagi tumbuhan.
Bakteri juga memiliki peranan yang penting dalam produksi makanan
bagi manusia, seperti dalam pembuatan keju, yoghurt, cuka, dan asinan.
Pada umumnya, proses produksi makanan dilakukan dengan bantuan bakteri
melalui proses fermentasi. Proses fermentasi merupakan proses perombakan
senyawa organik kompleks menjadi senyawa organik sederhana secara
enzimatik dan anaerobik. Dalam proses anaerobik tidak memerlukan oksigen,
sedangkan aerobik memerlukan adanya oksigen.
Beberapa bakteri heterotrofik menggunakan energi dengan memecah
molekul organik yang kompleks (molekul yang mengandung karbon).
Manusia telah mampu memproduksi berbagai bahan berguna, namun dapat
berbahaya pula bagi lingkungan, misalnya detergen dan larutan beracun
benzen. Bakteri dapat mendegradasi bahan-bahan berbahaya ini. Istilah
biodegradable (artinya dapat dipecah oleh makhluk hidup) menunjukkan
hasil kerja dari bakteri pengurai bahan-bahan tersebut. Penggunaan agen
hayati sebagai pengurai limbah disebut bioremediasi.
Bakteri juga memegang peranan penting dalam siklus hidup ekosistem.
Bakteri memecah sampah dan jasad mati dari tumbuhan dan hewan serta
melepaskan nutrisi penting untuk digunakan kembali oleh makhluk hidupnya.
Selain memiliki berbagai manfaat, bakteri juga ada yang dapat
membahayakan kesehatan manusia. Bakteri penyebab penyakit disebut juga
bakteri patogen. Bakteri ini menyintesis substansi beracun yang dapat
menyebabkan penyakit. Contohnya, Clostridium tetani dan Clostridium
botulinum yang menyebabkan tetanus dan botulism (keracunan makanan
yang dapat menyebabkan kematian). Bakteri anaerob ini dapat bertahan
hidup dalam bentuk spora apabila berada di lingkungan yang tidak
menguntungkan.
Spora Clostridium tetani memasuki tubuh melalui luka atau tusukan.
Setelah luka menutup, spora bakteri akan pecah. Ketika mereka melakukan
perbanyakan diri, bakteri melepaskan racun yang memasuki aliran darah.
Karena sifat patogen dan dapat menyebabkan kematian, banyak bakteri
yang disalahgunakan. Penggunaan bakteri sebagai senjata biologis
dikembangkan oleh militer dan telah banyak menimbulkan korban jiwa.
Bakteri Yersina pestis, penyebab penyakit pes, telah digunakan pada perang
pada abad pertengahan.
autotrof, seperti bakteri kemosintetik. Bakteri ini mendapat energi melalui
reaksi kombinasi oksigen dengan molekul anorganik, seperti sulfur, nitrit,
atau amonia. Dalam prosesnya, mereka melepaskan sulfur atau nitrat, yang
merupakan nutrisi penting bagi tumbuhan, ke dalam tanah.
Beberapa bakteri juga memiliki kemampuan untuk memecah selulosa,
komponen utama pembentuk dinding sel tumbuhan. Terdapat bakteri yang
memiliki simbiosis (hubungan hidup bersama) dengan mamalia ruminansia
(memamah biak, seperti sapi, kambing, domba). Bakteri ini hidup di saluran
pencernaan hewan memamah biak dan membantu mencerna makanan
berserat seperti rerumputan yang tidak dapat dicerna sendiri oleh hewan
tersebut. Simbiosis bakteri ini juga terdapat di dalam pencernaan Anda.
Bakteri ini menguraikan makanan yang tidak dapat tercerna dan mensintesis
vitamin seperti vitamin K dan B12.
Cyanobacteria mempunyai peranan dalam kehidupan manusia. Misalnya,
dalam ekosistem, Cyanobacteria berperan sebagai produsen dan makanan
bagi ikan-ikan kecil dan udang-udang kecil. Cyanobacteria juga dapat dijadikan
makanan. Contohnya Spirulina yang dapat dijadikan sumber makanan alternatif
dikarenakan kandungan proteinnya yang tinggi.
Anabaena, Cyanobacteria bersel satu, dapat bersimbiosis dengan paku
air Azolla pinnata. Anabaena mengikat nitrogen bebas dari udara sehingga
perairan cukup mengandung senyawa nitrogen yang dapat langsung
digunakan oleh tumbuhan lain. Anabaena dapat ditemukan di sawah-sawah
yang berair atau kolam yang dangkal.
Jenis simbiosis lain terjadi pada tumbuhan Leguminoseae dengan bakteri
pengikat nitrogen yang hidup pada nodul akar tumbuhan tersebut. Bakteri
ini menangkap gas nitrogen (N2) yang tidak dapat digunakan secara langsung
oleh tumbuhan dari udara dalam tanah. Kemudian, bakteri tersebut
menggabungkan nitrogen dengan hidrogen untuk menghasilkan amonium
(NH4+) yang merupakan nutrisi penting bagi tumbuhan.
Bakteri juga memiliki peranan yang penting dalam produksi makanan
bagi manusia, seperti dalam pembuatan keju, yoghurt, cuka, dan asinan.
Pada umumnya, proses produksi makanan dilakukan dengan bantuan bakteri
melalui proses fermentasi. Proses fermentasi merupakan proses perombakan
senyawa organik kompleks menjadi senyawa organik sederhana secara
enzimatik dan anaerobik. Dalam proses anaerobik tidak memerlukan oksigen,
sedangkan aerobik memerlukan adanya oksigen.
Beberapa bakteri heterotrofik menggunakan energi dengan memecah
molekul organik yang kompleks (molekul yang mengandung karbon).
Manusia telah mampu memproduksi berbagai bahan berguna, namun dapat
berbahaya pula bagi lingkungan, misalnya detergen dan larutan beracun
benzen. Bakteri dapat mendegradasi bahan-bahan berbahaya ini. Istilah
biodegradable (artinya dapat dipecah oleh makhluk hidup) menunjukkan
hasil kerja dari bakteri pengurai bahan-bahan tersebut. Penggunaan agen
hayati sebagai pengurai limbah disebut bioremediasi.
Bakteri juga memegang peranan penting dalam siklus hidup ekosistem.
Bakteri memecah sampah dan jasad mati dari tumbuhan dan hewan serta
melepaskan nutrisi penting untuk digunakan kembali oleh makhluk hidupnya.
Selain memiliki berbagai manfaat, bakteri juga ada yang dapat
membahayakan kesehatan manusia. Bakteri penyebab penyakit disebut juga
bakteri patogen. Bakteri ini menyintesis substansi beracun yang dapat
menyebabkan penyakit. Contohnya, Clostridium tetani dan Clostridium
botulinum yang menyebabkan tetanus dan botulism (keracunan makanan
yang dapat menyebabkan kematian). Bakteri anaerob ini dapat bertahan
hidup dalam bentuk spora apabila berada di lingkungan yang tidak
menguntungkan.
Spora Clostridium tetani memasuki tubuh melalui luka atau tusukan.
Setelah luka menutup, spora bakteri akan pecah. Ketika mereka melakukan
perbanyakan diri, bakteri melepaskan racun yang memasuki aliran darah.
Karena sifat patogen dan dapat menyebabkan kematian, banyak bakteri
yang disalahgunakan. Penggunaan bakteri sebagai senjata biologis
dikembangkan oleh militer dan telah banyak menimbulkan korban jiwa.
Bakteri Yersina pestis, penyebab penyakit pes, telah digunakan pada perang
pada abad pertengahan.
Kamis, 31 Mei 2012
Pencemaran Tanah
Pernahkah Anda melihat tumpukan limbah pada tempat limbah atau
pembuangan limbah akhir? Berton-ton limbah yang dihasilkan masyarakat
ini dapat menyebabkan pencemaran tanah.
Pencemaran tanah ini dapat disebabkan oleh bahan-bahan, seperti limbah
plastik, botol kaca, kaleng, zat kimia, dan logam-logam berat (Gambar 7.33).
Akibat dari pencemaran ini dapat mengganggu organisme tanah, bakteri
yang berguna bagi fiksasi nitrogen sehingga mengubah komposisi tanah.
Pencemaran tanah ini pun memengaruhi kandungan air tanah secara
langsung. Biasanya beberapa jenis bakteri dan bahan partikel lainnya yang
mencemari permukaan tanah dapat tersaring sehingga air tanah menjadi
cukup bersih. Akan tetapi, jika pencemarannya sangat berat dan melebihi
kapasitas filtrasi tanah, polutan tersebut akan mencemari air tanah dan sulit
untuk diperbaiki.
Bioaccumulation juga dapat terjadi pada organisme tanah.Organisme
tanah, seperti cacing dapat menyerap polutan logam berat dalam kadar yang
cukup besar. Melalui rantai makanan, hal ini dapat menyebabkan
biomagnification dan dapat berujung pada manusia.
pembuangan limbah akhir? Berton-ton limbah yang dihasilkan masyarakat
ini dapat menyebabkan pencemaran tanah.
Pencemaran tanah ini dapat disebabkan oleh bahan-bahan, seperti limbah
plastik, botol kaca, kaleng, zat kimia, dan logam-logam berat (Gambar 7.33).
Akibat dari pencemaran ini dapat mengganggu organisme tanah, bakteri
yang berguna bagi fiksasi nitrogen sehingga mengubah komposisi tanah.
Pencemaran tanah ini pun memengaruhi kandungan air tanah secara
langsung. Biasanya beberapa jenis bakteri dan bahan partikel lainnya yang
mencemari permukaan tanah dapat tersaring sehingga air tanah menjadi
cukup bersih. Akan tetapi, jika pencemarannya sangat berat dan melebihi
kapasitas filtrasi tanah, polutan tersebut akan mencemari air tanah dan sulit
untuk diperbaiki.
Bioaccumulation juga dapat terjadi pada organisme tanah.Organisme
tanah, seperti cacing dapat menyerap polutan logam berat dalam kadar yang
cukup besar. Melalui rantai makanan, hal ini dapat menyebabkan
biomagnification dan dapat berujung pada manusia.
Pencemaran Udara
Pernahkah Anda melihat asap kendaraan, asap pabrik,
dan asap pembakaran limbah? Semua itu merupakan salah satu contoh
pencemaran udara. Mungkin jika Anda melihat hanya satu atau dua orang
menggunakan kendaraan bermotor yang mencemari udara, Anda akan
berpikir hal tersebut biasa-biasa saja dan tidak akan menyebabkan perubahan
pada lingkungan. Akan tetapi, apa yang terjadi jika terdapat seratus
kendaraan? Seribu kendaraan, seperti di kota-kota besar? Jutaan kendaraan
di seluruh dunia?
Udara yang dihirup manusia harus udara bersih. Bayangkan jika Anda
menghirup karbon monoksida, Anda bisa mati. Sebab, gas tersebut di dalam
tubuh bersifat mengikat darah, sehingga darah dalam tubuh dapat teracuni oleh
gas karbon monoksida (CO) ini.
Apa yang terjadi jika CO2 di udara meningkat? Peningkatan CO2 dapat
menyebabkan pemanasan bumi melalui efek rumah kaca (green house effect).
Efek rumah kaca terjadi karena gas CO2 yang lebih ringan
dari udara, melayang di udara, berkumpul, dan membentuk suatu lapisan.
Cahaya matahari menembus atmosfer dan memantul pada permukaan bumi
untuk kembali ke luar angkasa. Proses ini menimbulkan energi panas di
atmosfer bumi. Panas tersebut dapat dikeluarkan melalui atmosfer. Namun,
adanya lapisan CO2 menyebabkan energi panas memantul kembali ke bumi,
begitu juga dengan cahaya. Hal ini menyebabkan panas bumi meningkat
dan disebut dengan pemanasan global (global warming). Akibat lebih jauh
dari pemanasan ini antara lain naiknya permukaan laut karena melelehnya
gunung-gunung es di kutub bumi, hilangnya pulau-pulau kecil, dan perubahan
iklim dunia. Untuk menanggulanginya dapat dilakukan dengan pengurangan
penggunaan barang-barang yang menghasilkan karbon dioksida yang tinggi,
seperti penggunaan kendaraan bermotor.
Pembakaran lain seperti pembakaran batu bara, dapat menyebabkan
hujan asam (acid rain). Batu bara, dengan kandungan sulfurnya yang tinggi,
menyebabkan kandungan SO2 di udara meningkat. Jika bergabung dengan
uap air, akan menghasilkan uap H2SO4 yang turun ke bumi dalam bentuk
hujan asam. Hujan asam dapat membunuh tanaman, merusak nutrisi tanah,
dan mengganggu fiksasi nitrogen oleh bakteri. Hujan asam yang jatuh ke
danau dan sungai dapat membunuh ikan. Selain itu, dapat menyebabkan
kerusakan pada bangunan, batu, dan bahan logam.
Selain hal-hal tersebut, terdapat beberapa sumber pencemaran udara.
Berbagai pencemar udara yang dianggap penting adalah sebagai berikut.
a. Oksida karbon : karbon monoksida (CO) dan karbon
dioksida (CO2).
b. Oksida belerang : sulfur dioksida (SO2) dan sulfur
trioksida (SO3)
c.Oksida nitrogen : nitrit oksida (NO), nitrogen dioksida
(NO2), dan nitrogen oksida (N2O).
d. Komponen organik volatil : metan (CH4), benzen (C6H6), klorofluoro
karbon (CFC), dan kelompok
bromin.
e. Suspensi partikel : debu, tanah, karbon, asbes, logam
berat, nitrat, asam sulfat (H2SO4), dan
pestisida.
f. Substansi radioaktif : radon-222, iodin-131, dan radioisotop
lainnya.
g. Suara : dihasilkan oleh kendaraan bermotor,
pesawat terbang, kereta api, mesin
industri dan sebagainya.
Di Indonesia, kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya,
merupakan kota yang derajat pencemaran udaranya tertinggi, terutama
berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Dapatkah Anda menyebutkan
dampak yang terjadi terhadap kesehatan manusia akibat pencemaranpencemaran
yang terjadi?
dan asap pembakaran limbah? Semua itu merupakan salah satu contoh
pencemaran udara. Mungkin jika Anda melihat hanya satu atau dua orang
menggunakan kendaraan bermotor yang mencemari udara, Anda akan
berpikir hal tersebut biasa-biasa saja dan tidak akan menyebabkan perubahan
pada lingkungan. Akan tetapi, apa yang terjadi jika terdapat seratus
kendaraan? Seribu kendaraan, seperti di kota-kota besar? Jutaan kendaraan
di seluruh dunia?
Udara yang dihirup manusia harus udara bersih. Bayangkan jika Anda
menghirup karbon monoksida, Anda bisa mati. Sebab, gas tersebut di dalam
tubuh bersifat mengikat darah, sehingga darah dalam tubuh dapat teracuni oleh
gas karbon monoksida (CO) ini.
Apa yang terjadi jika CO2 di udara meningkat? Peningkatan CO2 dapat
menyebabkan pemanasan bumi melalui efek rumah kaca (green house effect).
Efek rumah kaca terjadi karena gas CO2 yang lebih ringan
dari udara, melayang di udara, berkumpul, dan membentuk suatu lapisan.
Cahaya matahari menembus atmosfer dan memantul pada permukaan bumi
untuk kembali ke luar angkasa. Proses ini menimbulkan energi panas di
atmosfer bumi. Panas tersebut dapat dikeluarkan melalui atmosfer. Namun,
adanya lapisan CO2 menyebabkan energi panas memantul kembali ke bumi,
begitu juga dengan cahaya. Hal ini menyebabkan panas bumi meningkat
dan disebut dengan pemanasan global (global warming). Akibat lebih jauh
dari pemanasan ini antara lain naiknya permukaan laut karena melelehnya
gunung-gunung es di kutub bumi, hilangnya pulau-pulau kecil, dan perubahan
iklim dunia. Untuk menanggulanginya dapat dilakukan dengan pengurangan
penggunaan barang-barang yang menghasilkan karbon dioksida yang tinggi,
seperti penggunaan kendaraan bermotor.
Pembakaran lain seperti pembakaran batu bara, dapat menyebabkan
hujan asam (acid rain). Batu bara, dengan kandungan sulfurnya yang tinggi,
menyebabkan kandungan SO2 di udara meningkat. Jika bergabung dengan
uap air, akan menghasilkan uap H2SO4 yang turun ke bumi dalam bentuk
hujan asam. Hujan asam dapat membunuh tanaman, merusak nutrisi tanah,
dan mengganggu fiksasi nitrogen oleh bakteri. Hujan asam yang jatuh ke
danau dan sungai dapat membunuh ikan. Selain itu, dapat menyebabkan
kerusakan pada bangunan, batu, dan bahan logam.
Selain hal-hal tersebut, terdapat beberapa sumber pencemaran udara.
Berbagai pencemar udara yang dianggap penting adalah sebagai berikut.
a. Oksida karbon : karbon monoksida (CO) dan karbon
dioksida (CO2).
b. Oksida belerang : sulfur dioksida (SO2) dan sulfur
trioksida (SO3)
c.Oksida nitrogen : nitrit oksida (NO), nitrogen dioksida
(NO2), dan nitrogen oksida (N2O).
d. Komponen organik volatil : metan (CH4), benzen (C6H6), klorofluoro
karbon (CFC), dan kelompok
bromin.
e. Suspensi partikel : debu, tanah, karbon, asbes, logam
berat, nitrat, asam sulfat (H2SO4), dan
pestisida.
f. Substansi radioaktif : radon-222, iodin-131, dan radioisotop
lainnya.
g. Suara : dihasilkan oleh kendaraan bermotor,
pesawat terbang, kereta api, mesin
industri dan sebagainya.
Di Indonesia, kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya,
merupakan kota yang derajat pencemaran udaranya tertinggi, terutama
berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Dapatkah Anda menyebutkan
dampak yang terjadi terhadap kesehatan manusia akibat pencemaranpencemaran
yang terjadi?
Archaebacteria
Kelompok Archaebacteria merupakan organisme yang menempati daerah
yang ekstrim seperti sumber air panas dan air dengan kadar garam (salinitas)
tinggi. Para ilmuwan mengelompokkan Archaebacteria ke dalam tiga
kelompok, yaitu Metanogenik, Halofilik dan Termofilik (Start and Taggart,
1995: 352).
a. Metanogenik
Kelompok Archaebacteria ini bersifat anaerobik dan kemosintetik.
Bakteri ini memperoleh makanan dengan mereduksi CO2 menggunakan H2
menjadi metana (CH4). Hidup di rawa-rawa dan danau yang kekurangan
oksigen karena konsumsi mikroorganisme lain. Metanogenik juga berperan
dalam pembusukan sampah dan kotoran ternak. Metanogenik merupakan
bakteri utama dalam pembentukan biogas atau gas metana. Beberapa bakteri
metanogenik bersimbiosis dalam rumen herbivora dan hewan pengonsumsi
selulosa lainnya. Contohnya Methanosarcina mazei.
b. Halofilik
Bakteri Halofilik (halo: garam, philis: suka) ini hidup pada lingkungan
dengan kadar garam tinggi dan sebagian memerlukan kadar garam 10 kali
lebih tinggi daripada air laut untuk dapat hidup. Beberapa bakteri halofilik
dapat berfotosintesis dan memiliki zat warna yang disebut bacteriorodhopsin.
c. Termofilik
Sesuai dengan namanya (thermo: panas, philis: suka), Archaebacteria ini
hidup di tempat dengan suhu 60°C hingga 80°C. Beberapa bakteri termofilik
mampu mengoksidasi sulfur, seperti Sulfolobus yang hidup di mata air sulfur.
Bahkan, beberapa spesies mampu hidup dekat rekahan dasar laut dengan
suhu 105°C (Gambar 2.18b).
yang ekstrim seperti sumber air panas dan air dengan kadar garam (salinitas)
tinggi. Para ilmuwan mengelompokkan Archaebacteria ke dalam tiga
kelompok, yaitu Metanogenik, Halofilik dan Termofilik (Start and Taggart,
1995: 352).
a. Metanogenik
Kelompok Archaebacteria ini bersifat anaerobik dan kemosintetik.
Bakteri ini memperoleh makanan dengan mereduksi CO2 menggunakan H2
menjadi metana (CH4). Hidup di rawa-rawa dan danau yang kekurangan
oksigen karena konsumsi mikroorganisme lain. Metanogenik juga berperan
dalam pembusukan sampah dan kotoran ternak. Metanogenik merupakan
bakteri utama dalam pembentukan biogas atau gas metana. Beberapa bakteri
metanogenik bersimbiosis dalam rumen herbivora dan hewan pengonsumsi
selulosa lainnya. Contohnya Methanosarcina mazei.
b. Halofilik
Bakteri Halofilik (halo: garam, philis: suka) ini hidup pada lingkungan
dengan kadar garam tinggi dan sebagian memerlukan kadar garam 10 kali
lebih tinggi daripada air laut untuk dapat hidup. Beberapa bakteri halofilik
dapat berfotosintesis dan memiliki zat warna yang disebut bacteriorodhopsin.
c. Termofilik
Sesuai dengan namanya (thermo: panas, philis: suka), Archaebacteria ini
hidup di tempat dengan suhu 60°C hingga 80°C. Beberapa bakteri termofilik
mampu mengoksidasi sulfur, seperti Sulfolobus yang hidup di mata air sulfur.
Bahkan, beberapa spesies mampu hidup dekat rekahan dasar laut dengan
suhu 105°C (Gambar 2.18b).
Komponen Abiotik
Komponen abiotik merupakan segala sesuatu di luar makhluk hidup
yang meliputi faktor fisik dan kimia. Apakah faktor-faktor abiotik
memengaruhi faktor biotik dalam ekosistem?
a. Cahaya
Sinar matahari merupakan faktor abiotik yang memengaruhi hampir
semua makhluk hidup yang ada di bumi, terutama tumbuhan dan makhluk
hidup berklorofil lainnya. Selain sebagai faktor utama dalam
fotosintesis, sinar matahari memiliki kaitan yang penting dengan faktor
abiotik lain, yaitu suhu. Sinar matahari memengaruhi adaptasi hewan dengan
adanya hewan yang melakukan aktivitas lebih banyak pada siang hari
(hewan diurnal) dan pada malam hari (hewan nokturnal). Apakah
kelelawar termasuk hewan nokturnal? Sebutkan contoh hewan diurnal.
b. Suhu
Suhu memengaruhi makhluk hidup dalam ekosistem. Pada makhluk
hidup yang motil (dapat bergerak), jika suhu lingkungan tidak sesuai, ia
dapat berpindah tempat. Hal ini dilakukan contohnya pada burung alapalap
nippon (Accipiter gularis) yang melakukan migrasi pada saat musim dingin
dari daerah Jepang menuju daerah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali.
Pada makhluk hidup yang sesil (tidak dapat bergerak), misalnya pada
tumbuhan, jika suhu lingkungannya tidak sesuai, tumbuhan tersebut harus
beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal tersebut
dilakukan agar dapat bertahan dan tidak mati. Contohnya, pohon jati. Pohon
ini saat suhu lingkungannya tinggi, akan beradaptasi dengan mengugurkan
daunnya yang bertujuan mengurangi penguapan.
c. Air
Air memengaruhi ekosistem karena diperlukan oleh makhluk hidup.
Tumbuhan yang hidup di tempat dengan curah hujan yang
rendah, memiliki adaptasi akar yang panjang, lapisan lilin pada daun yang
tebal, dan daun yang kecil untuk mengurangi penguapan. Bagaimana ciriciri
tumbuhan yang hidup dengan curah hujan yang tinggi?
Pada hewan, ketersediaan air dapat menyebabkan hewan-hewan
bermigrasi ke tempat yang lebih banyak air. Bagi hewan atau tumbuhan
yang hidup di air, komposisi kimiawi dan kimia air sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidupnya.
d. Udara
Faktor udara erat kaitannya dengan faktor abiotik lainnya, seperti suhu
dan air. Udara yang bergerak (angin) dapat juga menjadi faktor yang
memengaruhi dalam ekosistem. Suhu udara, kelembapan, dan angin,
memengaruhi ekosistem secara bersamaan dan memengaruhi jenis makhluk
hidup yang mendiami ekosistem tertentu.
e. Topografi
Topografi atau ketinggian tempat berpengaruh langsung terhadap kadar
oksigen dan tekanan udara. Semakin tinggi suatu tempat, tekanan udara
dan kadar oksigen akan semakin berkurang. Kondisi ini sangat memengaruhi
vegetasi tumbuhan yang mampu hidup pada keadaan tersebut. Hal ini
berpengaruh juga terhadap hewan-hewan yang mampu beradaptasi pada
lingkungan tersebut.
f. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup dan media bagi makhluk hidup.
Bagi tumbuhan, tanah merupakan substrat tempat hidup
dan sumber nutrisi. Bagi hewan, terutama hewan yang hidup di darat,
tanah merupakan tempat melakukan berbagai aktivitas hidup. Sifat-sifat
tanah seperti keasaman, tekstur, dan kandungan unsur hara sangat
memengaruhi jenis makhluk hidup yang menghuninya. Karena beberapa
tumbuhan memiliki rentang hidup pada faktor kimia yang berbeda,
beberapa spesies tumbuhan dapat digunakan sebagai bioindikator.
yang meliputi faktor fisik dan kimia. Apakah faktor-faktor abiotik
memengaruhi faktor biotik dalam ekosistem?
a. Cahaya
Sinar matahari merupakan faktor abiotik yang memengaruhi hampir
semua makhluk hidup yang ada di bumi, terutama tumbuhan dan makhluk
hidup berklorofil lainnya. Selain sebagai faktor utama dalam
fotosintesis, sinar matahari memiliki kaitan yang penting dengan faktor
abiotik lain, yaitu suhu. Sinar matahari memengaruhi adaptasi hewan dengan
adanya hewan yang melakukan aktivitas lebih banyak pada siang hari
(hewan diurnal) dan pada malam hari (hewan nokturnal). Apakah
kelelawar termasuk hewan nokturnal? Sebutkan contoh hewan diurnal.
b. Suhu
Suhu memengaruhi makhluk hidup dalam ekosistem. Pada makhluk
hidup yang motil (dapat bergerak), jika suhu lingkungan tidak sesuai, ia
dapat berpindah tempat. Hal ini dilakukan contohnya pada burung alapalap
nippon (Accipiter gularis) yang melakukan migrasi pada saat musim dingin
dari daerah Jepang menuju daerah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali.
Pada makhluk hidup yang sesil (tidak dapat bergerak), misalnya pada
tumbuhan, jika suhu lingkungannya tidak sesuai, tumbuhan tersebut harus
beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal tersebut
dilakukan agar dapat bertahan dan tidak mati. Contohnya, pohon jati. Pohon
ini saat suhu lingkungannya tinggi, akan beradaptasi dengan mengugurkan
daunnya yang bertujuan mengurangi penguapan.
c. Air
Air memengaruhi ekosistem karena diperlukan oleh makhluk hidup.
Tumbuhan yang hidup di tempat dengan curah hujan yang
rendah, memiliki adaptasi akar yang panjang, lapisan lilin pada daun yang
tebal, dan daun yang kecil untuk mengurangi penguapan. Bagaimana ciriciri
tumbuhan yang hidup dengan curah hujan yang tinggi?
Pada hewan, ketersediaan air dapat menyebabkan hewan-hewan
bermigrasi ke tempat yang lebih banyak air. Bagi hewan atau tumbuhan
yang hidup di air, komposisi kimiawi dan kimia air sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidupnya.
d. Udara
Faktor udara erat kaitannya dengan faktor abiotik lainnya, seperti suhu
dan air. Udara yang bergerak (angin) dapat juga menjadi faktor yang
memengaruhi dalam ekosistem. Suhu udara, kelembapan, dan angin,
memengaruhi ekosistem secara bersamaan dan memengaruhi jenis makhluk
hidup yang mendiami ekosistem tertentu.
e. Topografi
Topografi atau ketinggian tempat berpengaruh langsung terhadap kadar
oksigen dan tekanan udara. Semakin tinggi suatu tempat, tekanan udara
dan kadar oksigen akan semakin berkurang. Kondisi ini sangat memengaruhi
vegetasi tumbuhan yang mampu hidup pada keadaan tersebut. Hal ini
berpengaruh juga terhadap hewan-hewan yang mampu beradaptasi pada
lingkungan tersebut.
f. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup dan media bagi makhluk hidup.
Bagi tumbuhan, tanah merupakan substrat tempat hidup
dan sumber nutrisi. Bagi hewan, terutama hewan yang hidup di darat,
tanah merupakan tempat melakukan berbagai aktivitas hidup. Sifat-sifat
tanah seperti keasaman, tekstur, dan kandungan unsur hara sangat
memengaruhi jenis makhluk hidup yang menghuninya. Karena beberapa
tumbuhan memiliki rentang hidup pada faktor kimia yang berbeda,
beberapa spesies tumbuhan dapat digunakan sebagai bioindikator.
Rabu, 30 Mei 2012
Myxomycotina
Myxomycotina disebut juga kapang lendir sejati. Ciri pembeda dalam
kelompok ini adalah fase somatiknya yang disebut plasmodium, yaitu massa
protoplasma yang memanjang dan mengandung banyak inti. Ukuran dan
warna Myxomycotina sangat beragam dan berubah-ubah bentuknya sewaktu
merayap di permukaan substrat tempat hidupnya. Makhluk hidup ini
memakan bakteri, spora-spora jamur serta bahan organik kecil dalam bentuk
partikel-partikel yang terdapat di tanah, daun-daun mati atau kayu yang
ditumbuhinya.
Dalam kondisi yang menguntungkan, plasmodium dapat bergerak seperti
ameba, mengambil makanan, dan ukurannya dapat bertambah. Apabila
keadaan menjadi kurang menguntungkan untuk pertumbuhan, makhluk
hidup ini dapat menjadi tidak aktif. Dalam keadaan demikian, jasad renik ini
berubah sifatnya menjadi tingkat dorman yang dinamakan sklerotum yang
tebal dan keras. Ketika keadaan lingkungan kembali menguntungkan untuk
tumbuh, maka struktur tersebut kembali menjadi plasmodium.
Kondisi lingkungan diduga juga berpengaruh terhadap awal pembentukan
spora. Proses tersebut terjadi melalui pembentukan tubuh buah
yang melepaskan spora-spora berflagela, flagela-flagela tersebut dapat
menghilang dan kemudian spora berkembang menjadi individu-individu
baru yang berplasmodium.
kelompok ini adalah fase somatiknya yang disebut plasmodium, yaitu massa
protoplasma yang memanjang dan mengandung banyak inti. Ukuran dan
warna Myxomycotina sangat beragam dan berubah-ubah bentuknya sewaktu
merayap di permukaan substrat tempat hidupnya. Makhluk hidup ini
memakan bakteri, spora-spora jamur serta bahan organik kecil dalam bentuk
partikel-partikel yang terdapat di tanah, daun-daun mati atau kayu yang
ditumbuhinya.
Dalam kondisi yang menguntungkan, plasmodium dapat bergerak seperti
ameba, mengambil makanan, dan ukurannya dapat bertambah. Apabila
keadaan menjadi kurang menguntungkan untuk pertumbuhan, makhluk
hidup ini dapat menjadi tidak aktif. Dalam keadaan demikian, jasad renik ini
berubah sifatnya menjadi tingkat dorman yang dinamakan sklerotum yang
tebal dan keras. Ketika keadaan lingkungan kembali menguntungkan untuk
tumbuh, maka struktur tersebut kembali menjadi plasmodium.
Kondisi lingkungan diduga juga berpengaruh terhadap awal pembentukan
spora. Proses tersebut terjadi melalui pembentukan tubuh buah
yang melepaskan spora-spora berflagela, flagela-flagela tersebut dapat
menghilang dan kemudian spora berkembang menjadi individu-individu
baru yang berplasmodium.
Langganan:
Postingan (Atom)