Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Mei 2012

Hujan

Pada musim kemarau, hujan selalu ditunggu-tunggu kedatangannya
karena akan membasahi Bumi dan menumbuhkan vegetasi. Hujan
yang turun menambah persediaan air tanah setelah meresap ke dalam
tanah.


Hujan


Kamu pasti pernah kehujanan.

Dalam meteorologi, istilah hujan dibatasi
hanya untuk tetes air yang
jatuh dari angkasa dan memiliki diameter
paling kecil 0,5 mm (0,002
inci). Kebanyakan hujan berasal awan
nimbostratus atau cumulonimbus.
Awan nimbostratus dapat menimbulkan
curah hujan lebat yang dikenal
dengan cloudbursts atau awan
ledakan.
Tetes hujan jarang berdiameter
lebih dari 5 mm (0,2 inci). Jika
melebihi 5 mm, butiran hujan akan
pecah menjadi butiran yang lebih kecil. Mengapa? Karena adanya tegangan
permukaan (surface tention) yang menahan butiran-butiran hujan. Pada
saat jatuh, butiran-butiran hujan bergesekan dengan udara. Akibatnya,
butiran hujan berukuran besar pecah menjadi butiran yang lebih kecil.
Butiran hujan halus memiliki diameter kurang dari 0,5 mm (0,002 inci)
yang disebut drizzle. Drizzle dapat berukuran begitu kecil sehingga
melayang di udara dan hampir tidak dapat dilihat. Drizzle dan butiran hujan
kecil umumnya berasal dari awan stratus atau nimbostratus dan terjadi
pada saat hujan selama beberapa jam. Jarang terjadi pada hujan yang
berlangsung seharian.


a. Proses Terjadinya Hujan
Hujan terjadi karena ada penguapan air dari permukaan Bumi
seperti laut, danau, sungai, tanah, dan tanaman. Pada suhu udara
tertentu, uap air mengalami proses pendinginan yang disebut
dengan kondensasi. Selama kondensasi berlangsung uap air yang
berbentuk gas berubah menjadi titik-titik air kecil yang melayang
di angkasa. Kemudian, jutaan titik-titik air saling bergabung
membentuk awan. Ketika gabungan titik-titik air ini menjadi besar
dan berat maka akan jatuh ke permukaan Bumi. Proses ini disebut
dengan presipitasi atau hujan.

Apakah ukuran butir-butir hujan sama? Hujan
memiliki ukuran butir yang berbeda-beda. Berdasarkan
ukuran butirannya, hujan dibedakan sebagai berikut.
1) Hujan gerimis (drizzle), diameter butir-butir air
hasil kondensasi kurang dari 0,5 mm.
2) Hujan salju (snow), terdiri atas kristal-kristal es
dengan suhu udara berada di bawah titik beku.
3) Hujan batu es, merupakan curahan batu es yang
turun di dalam uap panas dari awan dengan suhu
udara di bawah titik beku.
4) Hujan deras (rain), yaitu curahan air yang turun
dari awan dengan suhu udara di atas titik beku dan
diameter butirannya kurang lebih 5 mm.






b. Pengukuran Hujan
Jumlah hujan yang jatuh di suatu daerah selama
waktu tertentu disebut curah hujan. Untuk mengetahui
besarnya curah hujan digunakan alat yang disebut
penakar hujan (rain gauge). Alat ini terdiri atas corong
dan penampung air hujan. Corong berfungsi mengumpulkan
air hujan dan menyalurkan ke penampung. Air
hujan yang tertampung secara teratur harus dikosongkan
dan jumlahnya diukur menggunakan tabung
penakar. Curah hujan biasanya diukur dalam milimeter
(mm) atau sentimeter (cm).
Jumlah hujan yang sudah diukur kemudian dicatat
untuk berbagai tujuan. Beberapa jenis data hujan dapat
diperoleh dari hasil pengukuran hujan, antara lain:


1) Jumlah curah hujan harian.
Merupakan hasil pengukuran hujan selama 24 jam.
2) Curah hujan bulanan.
Merupakan jumlah total curah hujan harian selama sebulan.
3) Curah hujan tahunan.
Merupakan jumlah total curah hujan harian selama 12 bulan.

Pengukuran Angin

Angin memiliki dua unsur utama, yaitu kecepatan dan arah angin.
Keduanya diukur dengan alat yang berbeda.

1) Kecepatan Angin
Kecepatan angin diukur dengan anemometer.
Alat ini terdiri atas tiga cangkir (cup) yang dipasang
pada ujung tangkai secara horizontal. Bila angin
bertiup maka cangkir akan berputar.
Perputaran cangkir menyebabkan bagian
tengah juga berputar dan kecepatan angin dapat
diketahui. Kecepatan angin diukur dalam satuan
knots atau kilometer/jam, kadang-kadang ditunjukkan
dengan skala Beaufort.


2) Arah Angin
Angin selalu diukur sesuai arah tiupannya. Angin
utara menunjukkan bahwa angin bertiup dari arah
utara ke selatan. Arah angin dapat diketahui dengan
menggunakan bendera angin (wind vane). Alat ini
selalu mengarah dari mana angin bertiup.


3) Mawar Angin (Wind Rose)
Angin dapat bertiup dari satu arah secara terus-menerus.
Angin ini disebut angin dominan (prevailing wind). Pencatatan
arah angin yang dominan bertiup seharian dalam sebulan
dapat dilakukan dengan mawar angin. Pencatatan ini membentuk
segi delapan (oktagonal) yang mewakili delapan arah
mata angin. Setiap lengan menunjukkan tanggal ke mana arah
angin bertiup. Angka di tengah-tengah menunjukkan jumlah
hari tanpa terjadi angin.

Sistem Angin

Berdasarkan gerakan dan sifatnya, angin dapat dibedakan
menjadi:


1) Angin Pasat dan Angin Antipasat
Angin pasat terdiri atas angin pasat tenggara yang bertiup
di belahan Bumi selatan dan angin pasat timur laut yang
bertiup di belahan Bumi utara. Angin pasat bertiup tetap
sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju
daerah ekuator (khatulistiwa). Angin antipasat
adalah nama lain dari angin barat, yang merupakan
kebalikan dari angin pasat. Coba perhatikan
gambar 7.13.
Angin di atas khatulistiwa yang mengalir ke
daerah kutub dan turun di daerah maksimum
subtropik. Angin ini disebut angin antipasat. Di
belahan Bumi utara disebut angin antipasat barat
daya dan di belahan Bumi selatan disebut angin
antipasat barat laut. Pada daerah sekitar lintang 20°–
30°LU dan LS, angin antipasat kembali turun secara
vertikal sebagai angin kering. Angin kering ini
menyerap uap air di udara dan permukaan daratan.
Akibatnya, terbentuk gurun di muka Bumi. Misalnya
gurun di Arab Saudi, gurun Afrika, atau gurun
di Australia.


2) Angin Muson
Di Indonesia, terdapat dua jenis angin muson, yaitu angin
muson barat dan angin muson timur. Bagaimana perbedaan
keduanya? 

Angin muson barat bertiup pada bulan Oktober–April, saat
itu kedudukan Matahari berada di belahan Bumi selatan atau
Benua Australia. Sedangkan angin muson timur bertiup pada
bulan April–Oktober, saat itu kedudukan Matahari berada di
belahan Bumi utara atau Benua Asia.


3) Angin Lokal
Angin lokal hanya dirasakan di wilayah yang relatif sempit
dan pengaruhnya tidak luas. Apa saja jenis angin lokal yang
kamu ketahui.



4) Angin Fohn
Angih fohn terjadi dalam satu rangkaian dengan
hujan orografik. Setelah angin yang membawa uap
air menaiki puncak gunung dan menurunkan hujan
pada posisi lereng gunung, kemudian angin bertiup
menuruni sisi lereng gunung di sebaliknya.
Berdasarkan gambar 7.20, coba jelaskan proses
terjadinya angin fohn dan sifat anginnya.

Angin fohn memiliki nama yang berbeda-beda di banyak
daerah. Beberapa angin fohn yang bertiup di Indonesia sebagai
berikut.


a) Angin Brubu terdapat di Sulawesi Selatan.
b) Angin Bohorok terdapat di Deli, Sumatra Utara.
c) Angin Kumbang terdapat di Cirebon, Jawa Barat.
d) Angin Gending terdapat di Pasuruan dan Probolinggo, Jawa
Timur.
e) Angin Wambrau terdapat di Papua.


5) Angin yang Bersifat Dingin
Jenis angin yang bersifat dingin antara lain sebagai berikut.
a) Angin Mistral
Angin ini berasal dari pegunungan menuju ke dataran
rendah di pantai. Sebagai contoh angin yang bertiup di
pantai Laut Tengah, selatan Prancis.
b) Angin Bora
Angin bora bertiup di wilayah Balkan. Angin ini turun
dari Dataran Tinggi Balkan ke Pantai Istria dan Albania.


6) Angin Siklon dan Angin Antisiklon
Angin siklon dan angin antisiklon yang bertiup
di belahan Bumi utara dan belahan Bumi selatan
arahnya berbeda. Perhatikan gambar 7.21.
Dari gambar itu, apa yang dapat kamu amati
mengenai angin siklon dan angin antisiklon, baik
di belahan Bumi utara ataupun belahan Bumi
selatan?
Di daerah tropis, angin siklon lebih sering
terjadi di laut dan hampir tidak pernah terjadi di
sekitar khatulistiwa. Di Indonesia angin siklon
hanya terjadi di Pulau Timor, yaitu pada 11°LS.
Angin siklon memiliki kecepatan yang sangat
kuat sehingga bersifat merusak. Penyebutan angin
siklon untuk masing-masing daerah berbeda-beda.
Contoh:


a) Angin siklon di Samudra Atlantik disebut
Hurricane.
b) Angin siklon di Laut Cina Selatan disebut
Taifun.
c) Angin siklon di Teluk Benggala dan Laut Arab
disebut Siklon.
d) Angin siklon di Amerika daerah tropis disebut
Tornado.
e) Angin siklon di Asia Barat disebut Sengkejan.
Angin antisiklon tidak kuat seperti halnya angin siklon.
Kondisi cuaca daerah yang berangin antisiklon, cerah tidak
berawan. Angin ini merupakan angin turun, sehingga lebih
panas dan lebih kering dibanding angin siklon.


7) Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT)
Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT) merupakan
daerah pertemuan antara angin pasat tenggara dan angin pasat
timur laut atau disebut equator thermal. Daerah ini ditandai
dengan keadaan di sekitarnya memiliki suhu tinggi. Akibat

kenaikan massa udara, wilayah DKAT terbebas dari angin
topan dan dinamakan Doldrum atau daerah tenang
khatulistiwa (equatorial calm). DKAT selain sebagai tempat
terbentuknya konvergensi massa udara naik, juga sebagai
pembentuk awan yang menimbulkan hujan lebat.



Pengaruh DKAT di Indonesia, yaitu:


a) Menyebabkan hujan frontal dan hujan zenit.
b) Penguapan tinggi, karena suhu tinggi dan laut Indonesia
sangat luas.
c) Garis DKAT terbentuk karena suhu udara di sekitar
khatulistiwa tinggi.

Senin, 28 Mei 2012

Kerusakan Tanah dan Dampaknya bagi Kehidupan

Tanah menjadi media hidup bagi banyak makhluk hidup di Bumi
ini, termasuk kita manusia. Bahkan manusia memegang kendali utama
dalam penggunaan tanah. Berbagai cara ditempuh untuk mengoptimalkan
kegunaan tanah, mulai dari kegiatan pertanian, pertambangan,
dan aktivitas penggunaan lahan lainnya. Kita sering tidak
menyadari bahwa pemanfaatan tersebut telah menimbulkan penurunan
kualitas tanah. Bagaimana kerusakan itu bisa terjadi?


a. Erosi
Erosi seperti yang telah dibahas di depan juga merupakan
salah satu bentuk kerusakan tanah. Pengikisan yang terjadi
membuat materi tanah terlarut hingga akhirnya tanah kehilangan
unsur haranya. Akibatnya, tanah akan kehilangan kesuburannya.

Tidak hanya itu, terkikisnya lapisan tanah menyebabkan rusaknya
struktur tanah, hingga kemampuan menyerap air menjadi
berkurang. Tahukah kamu bagaimana akibatnya?
Dampak erosi tidak hanya akan dirasakan oleh tempat di
sekitar terjadinya erosi, tetapi juga wilayah yang menjadi daerah
pengendapan hasil erosi. Sedimentasi di sungai mengakibatkan
menurunnya daya tampung sungai. Bisa kamu bayangkan akibatnya?
Tanah yang semula subur akan kehilangan kesuburannya
akibat tertimbun oleh materi hasil erosi. Aliran air sungai yang
membawa material terlarut akan menjadi keruh. Kekeruhan
memengaruhi daya tembus sinar matahari ke dalam sungai. Jika
air keruh, sinar matahari tidak lagi mampu menembus air sungai.
Sementara itu, di sungai terdapat berbagai organisme yang
memerlukan sinar matahari untuk menunjang kehidupannya.


b. Penggundulan Hutan
Penyebab penggundulan hutan adalah bertambahnya
permintaan lahan untuk permukiman, sehingga lahanlahan
hutan diubah menjadi permukiman. Selain
permintaan lahan permukiman meningkat, penyebab
lain adalah perladangan berpindah dan kepentingan
ekonomi. Karena kayu dan hasil hutan merupakan
komoditas ekspor yang bernilai tinggi, maka penebangan
hutan menjadi marak dan tidak terkendali lagi.
Akibat hutan gundul, satwa liar akan kehilangan
habitatnya hingga akhirnya untuk mempertahankan
hidup sulit. Jika sudah begini kamu pasti tahu dampaknya
bagi lingkungan. Selain itu, fungsi hutan yang
selama ini sebagai paru-paru dunia dan penyimpan
cadangan air akan hilang. Bagaimana dampaknya bagi
lingkungan?


c Polusi
Polusi tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga di tanah
dan air. Polusi disebabkan pembuangan limbah, baik
itu limbah industri ataupun limbah rumah tangga ke
dalam tanah, air, dan udara.
d. Kebakaran Hutan
Tahukah kamu kebakaran hutan di Kalimantan dan
Sumatra yang terjadi sepanjang tahun 2006? Kebakaran
hutan ini menyebabkan penurunan biomas di dalam
tanah, sehingga produktivitas tanah menurun. Selain
itu, kebakaran hutan juga akan meningkatkan erosi
tanah.


e. Eksploitasi Tambang yang Berlebihan
Bahan-bahan tambang seperti emas, tembaga, dan bahan galian C
(pasir dan batu) dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Eksploitasi bahan-bahan tambang yang berlebihan, tanpa
memerhatikan lingkungan akan berdampak negatif di kemudian
hari. Lahan yang telah ditambang akan meninggalkan lubanglubang
yang mengangga di muka Bumi. Kerusakan lingkungan yang
berupa kesuburan tanah hilang dan perubahan topografi banyak
ditemukan pada lahan tambang yang dieksploitasi secara
berlebihan.



f. Kerusakan Karena Proses Kimiawi Air Hujan
Air hujan merupakan faktor utama terjadinya kerusakan tanah
melalui proses perubahan kimiawi dan sebagian lagi karena
proses mekanis. Proses kimiawi ini menyebabkan tanah menjadi
tidak subur.


g. Kerusakan Karena Proses Mekanis Air Hujan
Air hujan yang turun sangat deras dapat mengikis dan menggores
permukaan tanah sehingga terbentuk selokan. Pada daerah yang
tidak bervegetasi, hujan lebat dapat menghanyutkan tanah
berkubik-kubik. Air hujan dapat pula menghanyutkan lumpur
sehingga terjadi banjir lumpur.


h. Kerusakan Karena Tanah Longsor
Tanah longsor adalah turunnya atau ambruknya tanah dan batuan
ke bagian bawah akibat pengaruh daya gravitasi. Hujan
mempercepat longsornya tanah karena tanah menjadi longsor dan
berat. Pelongsoran hanya terjadi pada lapisan luar yang terlepas
dari permukaan tanah.

Gejala Vulkanisme

Peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut
bumi disebut dengan vulkanisme. Campuran bebatuan dalam keadaan cair,
liat, serta sangat panas disebut dengan magma. Tingginya suhu magma dan
banyaknya gas di dalam magma menimbulkan aktivitas magma. Magma
itu dapat berupa gas, padat, dan cair.
Gunung api merupakan tempat di permukaan bumi yang pernah atau
masih mengeluarkan magma. Ditinjau dari bentuk dan proses terjadinya,
gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.
a) Gunung api kerucut (strato)
Jenis gunung api yang banyak terdapat di Indonesia ini berbentuk
menyerupai kerucut, terbentuk dari adanya letusan dan lelehan (efusi),
yang terjadi secara bergantian. Gunung ini disebut lava gunung api
strato karena bahannya berlapis-lapis.
b) Gunung api corong (maar)
Bentuk gunung api ini menyerupai danau kecil (danau lava gas kawah).
Keadaan ini terbentuk karena letusan lava padat (eksplosi). Bahannya
terdiri dari efflata. Kondisi ini seperti yang terjadi di lereng Gunung
Lamongan Jawa Timur, Danau Eifel di Prancis, dan di dataran tinggi
Prancis Tengah.
c) Gunung api perisai (tameng)
Gunung api perisai ini berbentuk menyerupai perisai, terjadi pada permukaan
lereng yang landai dengan kemiringan lereng antara 1°–10°.
Gunung api ini terbentuk karena lelehan maupun cairan yang keluar
dan membentuk lereng yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair
sekali. Misalnya: Gunung Mauna Loa dan Gunung Mauna Kea di Hawaii.

Ditinjau dari aktivitasnya, gunung api dapat dibedakan menjadi tiga
golongan berikut.
a) Gunung aktif, merupakan gunung api yang masih beraktivitas,
mengeluarkan asap pada kawahnya, menimbulkan gempa dan letusan,
seperti Gunung Merapi dan Gunung Stromboli.

b. Gunung istirahat, merupakan gunung api yang sedang istirahat tetapi
sewaktu-waktu dapat meletus dan kemudian istirahat kembali, seperti
Gunung Ciremai.
c. Gunung mati, merupakan gunung api yang sejak tahun 1600 sudah
tidak meletus lagi, misalnya, Gunung Patuha dan Gunung Sumbing.
Berbagai Macam Bahan yang Dikeluarkan oleh Tenaga Vulkanisme
a. Benda Cair
Benda cair terdiri atas berikut.
(1) Lava, adalah magma yang telah keluar.
(2) Lahar panas, merupakan campuran magma dan air, berupa lumpur
panas mengalir.
(3) Lahar dingin, terdiri dari batu, pasir, dan debu di puncak gunung. Jika
hujan lebat, air hujan itu akan bercampur dengan debu dan pasir yang
merupakan bubur kental. Lahar dingin ini akan mengalir ke bawah
melalui lereng dan jurang-jurang dengan derasnya sehingga dapat
menyapu bersih semua yang dilaluinya. Derasnya lahar dingin yang
tidak terbendung akan mengakibatkan tertutupnya sawah-sawah,
terbendungnya sungai-sungai dan saluran-saluran air. Kondisi ini akan
dapat menimbulkan banjir lahar dingin yang didominasi pasir.
b. Efflata (bahan padat)
Berdasarkan asalnya, efflata dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
efflata antogen/pyrodastic atau effata yang berasal dari magma sendiri dan
efflata allogen atau efflata yang berasal dari bebatuan yang berada di sekitar
pipa kawah yang ikut terlempar. Menurut ukurannya, efflata dapat
dibedakan atas bom (batu besar-besar), lapili (batu sebesar kacang/kerikil),
pasir, debu, dan batu apung (batu yang penuh pori udara).
c. Bahan gas (ekshalasi)
Bahan gas terdiri atas:
(1) solftar, yaitu gas (H2S) yang keluar dari lubang;
(2) fumarol, yaitu tempat yang mengeluarkan uap air;
(3) mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan CO2 seperti Pegunungan Dieng
dan Gunung Tangkuban Perahu.
Selain beberapa bahaya yang disebabkan oleh letusan gunung api, ada
juga keuntungan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh makhluk hidup,
antara lain:
(1) adanya pelapukan abu yang mengandung garam-garam dan mineral
yang dibutuhkan oleh tubuh dapat meningkatkan kesuburan tanah
sehingga tanah di sekitar gunung berapi menjadi tanah yang subur;
(2) menjadi daerah tangkapan hujan atau mendatangkan hujan;
(3) semburan vulkanik dapat memperluas daerah pertanian;

d. meningkatnya jenis tanaman budi daya (tanaman perkebunan) karena
adanya bermacam-macam zona tumbuh-tumbuhan;
e. menjadikan letak mineral (tambang) dekat dengan permukaan tanah;
f. udara yang masih segar dan sangat sejuk dapat dijadikan tempat
pariwisata dan sanatorium.
Peristiwa Post Vulkanis
Peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau
yang telah meletus sering disebut dengan peristiwa post vulkanis. Peristiwa
ini, antara lain, sebagai berikut.
a) Makdani
Makdani merupakan sumber mata air mineral yang biasanya panas
dan dapat dimanfaatkan untuk pengobatan khususnya penyakit kulit.
b) Geyser
Geyser merupakan mata air yang memancarkan air panas secara
periodik setiap jam, satu hari, atau satu minggu. Tinggi pancarannya
dapat mencapai 10 sampai 100 meter. Contoh: di Selandia Baru, Pulau
Islandia, dan Yellowstone National Park (Amerika).
c) Fumarol
Fumarol adalah sumber gas yang dapat merupakan:
(1) mofet, adalah sumber gas asam arang (CO2), contohnya: Gunung
Tangkuban Perahu;
(2) sumber uap air, contohnya: fumarol gunung-gunung yang terdapat di
Italia dan Islandia;
(3) solfatar, adalah sumber gas belerang (H2S), contohnya: Gunung
Papandayan, Kawah Manuk, dan Gunung Welirang.
3) Gempa Bumi
Getaran permukaan bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan
dari dalam disebut dengan gempa bumi. Dilihat dari intensitasnya, terdapat
dua macam gempa, yaitu:
(1) makroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya besar dan dapat
dirasakan tanpa menggunakan alat;
(2) mikroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya kecil sekali dan
hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat perekam.
Berbagai hal mengenai gempa bumi ini perlu kita teliti lebih lanjut
supaya kita dapat mengurangi akibat yang ditimbulkannya. Tindakan itu
dapat dilakukan dengan adanya peramalan tentang terjadinya dan upaya
penanggulangannya. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombanggelombang
seismik, serta perambatannya disebut seismologi, sedangkan alat
untuk mencatat gempa adalah seismograf. Ada dua macam seismograf, yaitu:

(1) seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah vertikal;
(2) seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah horizontal.
Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo
gelombang tektonik dicatat oleh sismograf dengan menggunakan skala
Richter. Massa yang bebas dari getaran gempa yang disebut massa stasioner.

4) Diatropisme/Tektonisme/Tektogenesa
Perubahan letak lapisan bumi secara mendatar atau vertikal disebut
tektonisme. Bentuk hasil tenaga tektonisme umumnya berupa lipatan dan
patahan. Semua gerak naik dan turun yang menyebabkan perubahan bentuk
kulit bumi disebut dengan gerak tektonik. Gerak ini terbagi menjadi gerak
epirogenetik dan gerak orogenetik

a) Gerak epirogenetik merupakan gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi
yang sangat lambat, berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi
daerah yang luas. Ada dua macam gerak epirogenetik.
(1) Epirogenetik positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut naik. Keadaan ini akan jelas terlihat jika
kita berada di tepi pantai.
Contoh:
1. Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan
Maluku dan pulau-pulau barat daya sampai ke Pulau Banda).
2. Turunnya muara Sungai Hudson di Amerika yang dapat dilihat
sampai kedalaman ± 1.700 meter.
3. Turunnya lembah Sungai Kongo sampai dengan 2.000 meter di
bawah permukaan laut.
(2) Epirogenetik negatif, merupakan gerak naiknya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut turun.
Contoh:
1. Naiknya Pulau Timor dan Pulau Buton.
2. Naiknya dataran tinggi Colorado di Amerika.
b) Gerak orogenetik, merupakan gerakan pembentuk pegunungan, relatif
lebih cepat daripada gerak epirogenetik. Gerakan ini menyebabkan
tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang menyebabkan
peristiwa dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi.
Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan dan patahan.
(1) Lipatan (kerutan)
Adanya gerakan tekanan horizontal yang berakibat berkerut dan
melipatnya kulit bumi, selain itu juga dapat menyebabkan terbentuknya
pegunungan di relief muka bumi. Contoh: pegunungan-pegunungan
tua, seperti Pegunungan Ural dan Allegani. Lipatan ini terjadi pada
zaman primer; pegunungan muda, seperti rangkaian Sirkum
Mediterania dan Sirkum Pasifik yang terjadi pada zaman tersier.
Rangkaian Pegunungan Mediterania dimulai dari Pegunungan Atlas,
Alpen, Balkan, Asia Muka, Himalaya, Hindia Belakang, Sumatra, Jawa,
Nusa Tenggara, sampai Maluku, sedangkan Sirkum Pasifik memanjang
dari pantai Pasifik Amerika, Jepang, Filipina, Papua, Australia, sampai
Selandia Baru.
Lipatan dibagi atas tiga lipatan yaitu: lipatan tegak, lipatan condong,
dan lipatan rebah. Punggung-punggung lipatan disebut antiklinal dan
lembah lipatan disebut sinklinal.
(2) Patahan (retakan)
Gerakan tekanan horizontal dan vertikal menyebabkan retak atau
patahnya lapisan kulit bumi. Misalnya: tanah turun (slenk), tanah naik
(horst), dan tanah bungkuk (fleksur).

Gejala Vulkanisme

Peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut
bumi disebut dengan vulkanisme. Campuran bebatuan dalam keadaan cair,
liat, serta sangat panas disebut dengan magma. Tingginya suhu magma dan
banyaknya gas di dalam magma menimbulkan aktivitas magma. Magma
itu dapat berupa gas, padat, dan cair.
Gunung api merupakan tempat di permukaan bumi yang pernah atau
masih mengeluarkan magma. Ditinjau dari bentuk dan proses terjadinya,
gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.
a) Gunung api kerucut (strato)
Jenis gunung api yang banyak terdapat di Indonesia ini berbentuk
menyerupai kerucut, terbentuk dari adanya letusan dan lelehan (efusi),
yang terjadi secara bergantian. Gunung ini disebut lava gunung api
strato karena bahannya berlapis-lapis.
b) Gunung api corong (maar)
Bentuk gunung api ini menyerupai danau kecil (danau lava gas kawah).
Keadaan ini terbentuk karena letusan lava padat (eksplosi). Bahannya
terdiri dari efflata. Kondisi ini seperti yang terjadi di lereng Gunung
Lamongan Jawa Timur, Danau Eifel di Prancis, dan di dataran tinggi
Prancis Tengah.
c) Gunung api perisai (tameng)
Gunung api perisai ini berbentuk menyerupai perisai, terjadi pada permukaan
lereng yang landai dengan kemiringan lereng antara 1°–10°.
Gunung api ini terbentuk karena lelehan maupun cairan yang keluar
dan membentuk lereng yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair
sekali. Misalnya: Gunung Mauna Loa dan Gunung Mauna Kea di Hawaii.

Ditinjau dari aktivitasnya, gunung api dapat dibedakan menjadi tiga
golongan berikut.
a) Gunung aktif, merupakan gunung api yang masih beraktivitas,
mengeluarkan asap pada kawahnya, menimbulkan gempa dan letusan,
seperti Gunung Merapi dan Gunung Stromboli.

b. Gunung istirahat, merupakan gunung api yang sedang istirahat tetapi
sewaktu-waktu dapat meletus dan kemudian istirahat kembali, seperti
Gunung Ciremai.
c. Gunung mati, merupakan gunung api yang sejak tahun 1600 sudah
tidak meletus lagi, misalnya, Gunung Patuha dan Gunung Sumbing.
Berbagai Macam Bahan yang Dikeluarkan oleh Tenaga Vulkanisme
a. Benda Cair
Benda cair terdiri atas berikut.
(1) Lava, adalah magma yang telah keluar.
(2) Lahar panas, merupakan campuran magma dan air, berupa lumpur
panas mengalir.
(3) Lahar dingin, terdiri dari batu, pasir, dan debu di puncak gunung. Jika
hujan lebat, air hujan itu akan bercampur dengan debu dan pasir yang
merupakan bubur kental. Lahar dingin ini akan mengalir ke bawah
melalui lereng dan jurang-jurang dengan derasnya sehingga dapat
menyapu bersih semua yang dilaluinya. Derasnya lahar dingin yang
tidak terbendung akan mengakibatkan tertutupnya sawah-sawah,
terbendungnya sungai-sungai dan saluran-saluran air. Kondisi ini akan
dapat menimbulkan banjir lahar dingin yang didominasi pasir.
b. Efflata (bahan padat)
Berdasarkan asalnya, efflata dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
efflata antogen/pyrodastic atau effata yang berasal dari magma sendiri dan
efflata allogen atau efflata yang berasal dari bebatuan yang berada di sekitar
pipa kawah yang ikut terlempar. Menurut ukurannya, efflata dapat
dibedakan atas bom (batu besar-besar), lapili (batu sebesar kacang/kerikil),
pasir, debu, dan batu apung (batu yang penuh pori udara).
c. Bahan gas (ekshalasi)
Bahan gas terdiri atas:
(1) solftar, yaitu gas (H2S) yang keluar dari lubang;
(2) fumarol, yaitu tempat yang mengeluarkan uap air;
(3) mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan CO2 seperti Pegunungan Dieng
dan Gunung Tangkuban Perahu.
Selain beberapa bahaya yang disebabkan oleh letusan gunung api, ada
juga keuntungan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh makhluk hidup,
antara lain:
(1) adanya pelapukan abu yang mengandung garam-garam dan mineral
yang dibutuhkan oleh tubuh dapat meningkatkan kesuburan tanah
sehingga tanah di sekitar gunung berapi menjadi tanah yang subur;
(2) menjadi daerah tangkapan hujan atau mendatangkan hujan;
(3) semburan vulkanik dapat memperluas daerah pertanian;

d. meningkatnya jenis tanaman budi daya (tanaman perkebunan) karena
adanya bermacam-macam zona tumbuh-tumbuhan;
e. menjadikan letak mineral (tambang) dekat dengan permukaan tanah;
f. udara yang masih segar dan sangat sejuk dapat dijadikan tempat
pariwisata dan sanatorium.
Peristiwa Post Vulkanis
Peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau
yang telah meletus sering disebut dengan peristiwa post vulkanis. Peristiwa
ini, antara lain, sebagai berikut.
a) Makdani
Makdani merupakan sumber mata air mineral yang biasanya panas
dan dapat dimanfaatkan untuk pengobatan khususnya penyakit kulit.
b) Geyser
Geyser merupakan mata air yang memancarkan air panas secara
periodik setiap jam, satu hari, atau satu minggu. Tinggi pancarannya
dapat mencapai 10 sampai 100 meter. Contoh: di Selandia Baru, Pulau
Islandia, dan Yellowstone National Park (Amerika).
c) Fumarol
Fumarol adalah sumber gas yang dapat merupakan:
(1) mofet, adalah sumber gas asam arang (CO2), contohnya: Gunung
Tangkuban Perahu;
(2) sumber uap air, contohnya: fumarol gunung-gunung yang terdapat di
Italia dan Islandia;
(3) solfatar, adalah sumber gas belerang (H2S), contohnya: Gunung
Papandayan, Kawah Manuk, dan Gunung Welirang.
3) Gempa Bumi
Getaran permukaan bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan
dari dalam disebut dengan gempa bumi. Dilihat dari intensitasnya, terdapat
dua macam gempa, yaitu:
(1) makroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya besar dan dapat
dirasakan tanpa menggunakan alat;
(2) mikroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya kecil sekali dan
hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat perekam.
Berbagai hal mengenai gempa bumi ini perlu kita teliti lebih lanjut
supaya kita dapat mengurangi akibat yang ditimbulkannya. Tindakan itu
dapat dilakukan dengan adanya peramalan tentang terjadinya dan upaya
penanggulangannya. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombanggelombang
seismik, serta perambatannya disebut seismologi, sedangkan alat
untuk mencatat gempa adalah seismograf. Ada dua macam seismograf, yaitu:

(1) seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah vertikal;
(2) seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah horizontal.
Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo
gelombang tektonik dicatat oleh sismograf dengan menggunakan skala
Richter. Massa yang bebas dari getaran gempa yang disebut massa stasioner.

4) Diatropisme/Tektonisme/Tektogenesa
Perubahan letak lapisan bumi secara mendatar atau vertikal disebut
tektonisme. Bentuk hasil tenaga tektonisme umumnya berupa lipatan dan
patahan. Semua gerak naik dan turun yang menyebabkan perubahan bentuk
kulit bumi disebut dengan gerak tektonik. Gerak ini terbagi menjadi gerak
epirogenetik dan gerak orogenetik

a) Gerak epirogenetik merupakan gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi
yang sangat lambat, berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi
daerah yang luas. Ada dua macam gerak epirogenetik.
(1) Epirogenetik positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut naik. Keadaan ini akan jelas terlihat jika
kita berada di tepi pantai.
Contoh:
1. Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan
Maluku dan pulau-pulau barat daya sampai ke Pulau Banda).
2. Turunnya muara Sungai Hudson di Amerika yang dapat dilihat
sampai kedalaman ± 1.700 meter.
3. Turunnya lembah Sungai Kongo sampai dengan 2.000 meter di
bawah permukaan laut.
(2) Epirogenetik negatif, merupakan gerak naiknya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut turun.
Contoh:
1. Naiknya Pulau Timor dan Pulau Buton.
2. Naiknya dataran tinggi Colorado di Amerika.
b) Gerak orogenetik, merupakan gerakan pembentuk pegunungan, relatif
lebih cepat daripada gerak epirogenetik. Gerakan ini menyebabkan
tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang menyebabkan
peristiwa dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi.
Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan dan patahan.
(1) Lipatan (kerutan)
Adanya gerakan tekanan horizontal yang berakibat berkerut dan
melipatnya kulit bumi, selain itu juga dapat menyebabkan terbentuknya
pegunungan di relief muka bumi. Contoh: pegunungan-pegunungan
tua, seperti Pegunungan Ural dan Allegani. Lipatan ini terjadi pada
zaman primer; pegunungan muda, seperti rangkaian Sirkum
Mediterania dan Sirkum Pasifik yang terjadi pada zaman tersier.
Rangkaian Pegunungan Mediterania dimulai dari Pegunungan Atlas,
Alpen, Balkan, Asia Muka, Himalaya, Hindia Belakang, Sumatra, Jawa,
Nusa Tenggara, sampai Maluku, sedangkan Sirkum Pasifik memanjang
dari pantai Pasifik Amerika, Jepang, Filipina, Papua, Australia, sampai
Selandia Baru.
Lipatan dibagi atas tiga lipatan yaitu: lipatan tegak, lipatan condong,
dan lipatan rebah. Punggung-punggung lipatan disebut antiklinal dan
lembah lipatan disebut sinklinal.
(2) Patahan (retakan)
Gerakan tekanan horizontal dan vertikal menyebabkan retak atau
patahnya lapisan kulit bumi. Misalnya: tanah turun (slenk), tanah naik
(horst), dan tanah bungkuk (fleksur).

Jumat, 25 Mei 2012

Dinamika Muka Bumi

Ketika menyaksikan lava panas meleleh dari gunung api yang
sedang meletus, orang percaya bahwa di dalam Bumi terdapat cairan
yang sangat luas. Orang zaman dahulu mengira bahwa cairan panas
itu berasal dari neraka yang letaknya di dalam Bumi. Saat itu, materi
panas yang ada di dalam Bumi menjadi teka-teki.

Setelah beberapa ribu tahun kemudian, para ahli
mulai menemukan titik terang bagaimana cairan panas itu
terbentuk. Menurut para ahli, pada mulanya inti Bumi
masih kecil. Namun, seiring bertambahnya massa,
gravitasinya menjadi semakin kuat. Gravitasi yang kuat
menyebabkan benda-benda kecil seperti meteor ditarik
Bumi dengan kecepatan yang tinggi sehingga terjadi
benturan. Benturan-benturan antara benda-benda kecil
dengan Bumi itulah yang menyebabkan inti Bumi menjadi
panas.
Petunjuk tentang material penyusun Bumi diberikan
oleh beberapa meteorit yang pernah menabrak Bumi.
Berdasarkan penelitian, meteorit itu tersusun oleh mineral
besi dan silikat. Dari penelitian ini, para ahli menyimpulkan
bahwa bahan utama Bumi adalah besi dan
silikat.
Selain bahan utama tersebut, terdapat unsur lain yang beberapa
di antaranya bersifat radioaktif (bahan utama nuklir). Radioaktif yang
paling penting adalah uranium yang sekarang masih ada. Para ahli
berpendapat, dahulu pasti ada bahan radioaktif lain yang sekarang
telah berubah menjadi bahan biasa kemudian melepaskan energi panas
yang melelehkan besi dan silikat. Karena lebih berat daripada silikat,
besi cenderung mengendap ke pusat menjadi inti Bumi.
Kini, kamu telah tahu bahwa inti Bumi berupa besi yang sangat
panas, suhunya kira-kira 3.900°C. Karena panasnya, bagian inti yang
cair ini selalu bergolak. Gerakan inilah yang kemudian menyebabkan
gempa serta melahirkan gunung dan pegunungan. Gerakan ini jugalah
yang menyebabkan benua-benua bergeser.
Pendapat bahwa benua-benua bergeser seperti balok-balok kayu
yang mengapung di kolam sempat dicemoohkan orang selama
bertahun-tahun. Namun, pada akhirnya ditemukan bukti-bukti yang
menguatkan pendapat tersebut. Berdasarkan bukti-bukti itu, para ahli
yakin bahwa dahulu benua-benua yang ada sekarang ini pernah
menyatu yang disebut Pangaea.

perkembangan muka Bumi dapat dijelaskan
sebagai berikut.


a. 200 Juta Tahun yang Lalu
Benua-benua tergabung dalam satu superbenua bernama Pangaea.
Amerika Utara dan Eurasia merupakan bagian utara Pangaea dan
disebut Laurasia. Benua-benua lain bergerombol di segmen
selatan, yaitu Gondwana. Di sebelah timur terdapat Laut Tethys.


b. 180 Juta Tahun yang Lalu
Benua Pangaea mulai pecah, dengan munculnya Samudra Atlantik
Utara di antara Laurasia dan Gondwana. Gondwana sendiri pecah
menjadi tiga bagian dan Laut Tethys menjadi lebih sempit.


c. 135 Juta Tahun yang Lalu
Sebuah retakan melebar antara Amerika Utara dan Eurasia dengan
memperlebar Atlantik Utara. Amerika Selatan dan Afrika mulai
terpisah sepanjang suatu retakan yang menjadi Samudra Atlantik
Selatan. India bergerak ke utara menuju Asia.


d. 65 Juta Tahun yang Lalu
Amerika Selatan dan Afrika telah menempuh jalan masingmasing.
Amerika Utara dan Eropa masih berhubungan dengan
Greenland. Sedangkan India mendekati Asia.


e. Saat Ini
Greenland telah terpisah, sementara Australia telah berpindah
ke utara dari Antartika. India telah menabrak Asia.


f. Prediksi 50 Juta Tahun yang Akan Datang
Samudra Atlantik terus melebar, sementara Samudra Pasifik
menciut. Australia mendekati Asia. Lembah retak Afrika terbuka
dan tergenang. Laut Merah melebar dan Teluk Persia lenyap.

Dinamika Muka Bumi

Ketika menyaksikan lava panas meleleh dari gunung api yang
sedang meletus, orang percaya bahwa di dalam Bumi terdapat cairan
yang sangat luas. Orang zaman dahulu mengira bahwa cairan panas
itu berasal dari neraka yang letaknya di dalam Bumi. Saat itu, materi
panas yang ada di dalam Bumi menjadi teka-teki.

Setelah beberapa ribu tahun kemudian, para ahli
mulai menemukan titik terang bagaimana cairan panas itu
terbentuk. Menurut para ahli, pada mulanya inti Bumi
masih kecil. Namun, seiring bertambahnya massa,
gravitasinya menjadi semakin kuat. Gravitasi yang kuat
menyebabkan benda-benda kecil seperti meteor ditarik
Bumi dengan kecepatan yang tinggi sehingga terjadi
benturan. Benturan-benturan antara benda-benda kecil
dengan Bumi itulah yang menyebabkan inti Bumi menjadi
panas.
Petunjuk tentang material penyusun Bumi diberikan
oleh beberapa meteorit yang pernah menabrak Bumi.
Berdasarkan penelitian, meteorit itu tersusun oleh mineral
besi dan silikat. Dari penelitian ini, para ahli menyimpulkan
bahwa bahan utama Bumi adalah besi dan
silikat.
Selain bahan utama tersebut, terdapat unsur lain yang beberapa
di antaranya bersifat radioaktif (bahan utama nuklir). Radioaktif yang
paling penting adalah uranium yang sekarang masih ada. Para ahli
berpendapat, dahulu pasti ada bahan radioaktif lain yang sekarang
telah berubah menjadi bahan biasa kemudian melepaskan energi panas
yang melelehkan besi dan silikat. Karena lebih berat daripada silikat,
besi cenderung mengendap ke pusat menjadi inti Bumi.
Kini, kamu telah tahu bahwa inti Bumi berupa besi yang sangat
panas, suhunya kira-kira 3.900°C. Karena panasnya, bagian inti yang
cair ini selalu bergolak. Gerakan inilah yang kemudian menyebabkan
gempa serta melahirkan gunung dan pegunungan. Gerakan ini jugalah
yang menyebabkan benua-benua bergeser.
Pendapat bahwa benua-benua bergeser seperti balok-balok kayu
yang mengapung di kolam sempat dicemoohkan orang selama
bertahun-tahun. Namun, pada akhirnya ditemukan bukti-bukti yang
menguatkan pendapat tersebut. Berdasarkan bukti-bukti itu, para ahli
yakin bahwa dahulu benua-benua yang ada sekarang ini pernah
menyatu yang disebut Pangaea.

perkembangan muka Bumi dapat dijelaskan
sebagai berikut.


a. 200 Juta Tahun yang Lalu
Benua-benua tergabung dalam satu superbenua bernama Pangaea.
Amerika Utara dan Eurasia merupakan bagian utara Pangaea dan
disebut Laurasia. Benua-benua lain bergerombol di segmen
selatan, yaitu Gondwana. Di sebelah timur terdapat Laut Tethys.


b. 180 Juta Tahun yang Lalu
Benua Pangaea mulai pecah, dengan munculnya Samudra Atlantik
Utara di antara Laurasia dan Gondwana. Gondwana sendiri pecah
menjadi tiga bagian dan Laut Tethys menjadi lebih sempit.


c. 135 Juta Tahun yang Lalu
Sebuah retakan melebar antara Amerika Utara dan Eurasia dengan
memperlebar Atlantik Utara. Amerika Selatan dan Afrika mulai
terpisah sepanjang suatu retakan yang menjadi Samudra Atlantik
Selatan. India bergerak ke utara menuju Asia.


d. 65 Juta Tahun yang Lalu
Amerika Selatan dan Afrika telah menempuh jalan masingmasing.
Amerika Utara dan Eropa masih berhubungan dengan
Greenland. Sedangkan India mendekati Asia.


e. Saat Ini
Greenland telah terpisah, sementara Australia telah berpindah
ke utara dari Antartika. India telah menabrak Asia.


f. Prediksi 50 Juta Tahun yang Akan Datang
Samudra Atlantik terus melebar, sementara Samudra Pasifik
menciut. Australia mendekati Asia. Lembah retak Afrika terbuka
dan tergenang. Laut Merah melebar dan Teluk Persia lenyap.

Litosfer

Bumi mempunyai struktur lapisan mirip telur. Cangkang atau
kulit telur mewakili lapisan kulit atau kerak Bumi (crust), inilah bagian
dari litosfer. Putih telur mewakili lapisan selubung Bumi (mantle),
bagian ini sering disebut astenosfer. Paling dalam yaitu kuning telur
yang mewakili inti Bumi (core), bagian ini disebut barisfer.
Bagian paling dalam dari Bumi yang disebut inti Bumi (core) ini
mempunyai suhu lebih dari 3.000°C, tersusun oleh material nikel
besi. Inti bumi dibagi menjadi dua lapisan. Lapisan bagian inti luar
bersifat cair dan lapisan inti bagian dalam bersifat lebih padat
dibanding lapisan luar.

Ketebalan lapisan selubung Bumi yang berada di bawah
lapisan kerak Bumi mencapai kedalaman sampai 2.900 km.
Lapisan selubung dibagi menjadi lapisan atas dan lapisan
bawah. Lapisan atas bersifat lembek, bersuhu sangat panas
lebih dari 2.000°C, dan dapat mengalir pelan-pelan seperti
aspal jalan yang meleleh pada saat terik matahari di siang
hari. Lapisan selubung bagian bawah bersifat lebih padat
dan tegar akibat tekanan yang besar dari dalam Bumi. Batas
antara lapisan kerak Bumi dan lapisan selubung Bumi
(mantle) berhasil ditemukan oleh ilmuwan Kroasia,
Andrija Mohorovicic pada tahun 1909.
Ketebalan lapisan kerak Bumi sangat tipis bila
dibandingkan dengan ukuran Bumi sebenarnya. Ketebalan lapisan ini
5–7 km di dasar samudra dan 30–80 km di bawah daratan benua.
Begitu pula dengan batuan penyusunnya. Lapisan yang tersusun atas
logam silisium dan aluminium dikenal dengan lapisan sial dengan
ketebalan rata-rata 35 km, bersifat padat. Sementara itu, ada juga
lapisan yang mengandung silisium dan magnesium, dikenal dengan
lapisan sima. Ketebalan rata-rata lapisan ini berkisar 65 km. Mengapa
terjadi perbedaan kandungan batuan antarlapisan? Coba kamu cari
dan temukan jawabannya di berbagai sumber belajar.

Litosfer

Bumi mempunyai struktur lapisan mirip telur. Cangkang atau
kulit telur mewakili lapisan kulit atau kerak Bumi (crust), inilah bagian
dari litosfer. Putih telur mewakili lapisan selubung Bumi (mantle),
bagian ini sering disebut astenosfer. Paling dalam yaitu kuning telur
yang mewakili inti Bumi (core), bagian ini disebut barisfer.
Bagian paling dalam dari Bumi yang disebut inti Bumi (core) ini
mempunyai suhu lebih dari 3.000°C, tersusun oleh material nikel
besi. Inti bumi dibagi menjadi dua lapisan. Lapisan bagian inti luar
bersifat cair dan lapisan inti bagian dalam bersifat lebih padat
dibanding lapisan luar.

Ketebalan lapisan selubung Bumi yang berada di bawah
lapisan kerak Bumi mencapai kedalaman sampai 2.900 km.
Lapisan selubung dibagi menjadi lapisan atas dan lapisan
bawah. Lapisan atas bersifat lembek, bersuhu sangat panas
lebih dari 2.000°C, dan dapat mengalir pelan-pelan seperti
aspal jalan yang meleleh pada saat terik matahari di siang
hari. Lapisan selubung bagian bawah bersifat lebih padat
dan tegar akibat tekanan yang besar dari dalam Bumi. Batas
antara lapisan kerak Bumi dan lapisan selubung Bumi
(mantle) berhasil ditemukan oleh ilmuwan Kroasia,
Andrija Mohorovicic pada tahun 1909.
Ketebalan lapisan kerak Bumi sangat tipis bila
dibandingkan dengan ukuran Bumi sebenarnya. Ketebalan lapisan ini
5–7 km di dasar samudra dan 30–80 km di bawah daratan benua.
Begitu pula dengan batuan penyusunnya. Lapisan yang tersusun atas
logam silisium dan aluminium dikenal dengan lapisan sial dengan
ketebalan rata-rata 35 km, bersifat padat. Sementara itu, ada juga
lapisan yang mengandung silisium dan magnesium, dikenal dengan
lapisan sima. Ketebalan rata-rata lapisan ini berkisar 65 km. Mengapa
terjadi perbedaan kandungan batuan antarlapisan? Coba kamu cari
dan temukan jawabannya di berbagai sumber belajar.

Manfaat Kerak Bumi

Kerak Bumi, lapisan terluar Bumi ini ternyata terdiri atas sekitar
3.000 mineral. Bisa kamu bayangkan apa saja mineral tersebut dan
manfaatnya? Mineral-mineral tersebut ditemukan dalam tiga jenis
batuan, yaitu batuan beku, endapan, dan malihan, atau terkadang
berupa longgokan mineral. Batuan dan mineral penyusun kerak ini
diperoleh dengan cara penambangan. Banyak batuan dan mineral
hanya ditemukan jauh di bawah permukaan Bumi. Tetapi, ada juga
beberapa yang ditemukan dekat permukaan Bumi.


a. Batuan Beku
Batuan ini terbentuk karena magma yang mendingin dan menjadi
keras. Batuan beku terjadi terutama di sepanjang tepi lempeng
dan pada daerah panas yang menghasilkan magma.


b. Batuan Endapan (Sedimen)
Batuan endapan berasal dari batuan beku yang muncul di
permukaan Bumi. Karena adanya tenaga angin dan air, batuan beku
dirombak menjadi material-material yang lebih kecil, kemudian
diendapkan di dasar samudra. Di samudra, lama-kelamaan
endapan tersebut memadat dan menjadi batuan endapan.


c. Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan malihan terjadi karena adanya tekanan dan suhu yang
tinggi. Sehingga memampatkan dan meremukkan batuan yang
sudah ada sebelumnya, baik itu yang berupa batuan beku ataupun
batuan endapan.


Dengan adanya berbagai proses pembentukan jenis-jenis batuan
di atas, akan menghasilkan material-material yang bernilai ekonomis
tinggi. Tahukah kamu intan? Ya, intan merupakan batuan yang paling
keras dan sangat berharga. Batu intan terbentuk di dalam Bumi pada
kedalaman kurang lebih 150 km. Karena terletak pada lapisan yang
sangat dalam, maka karbon sebagai bahan pembentuk intan,
mendapatkan tekanan yang sangat kuat dan mendapat panas yang
sangat tinggi hingga 1.650°C. Dengan adanya tekanan yang kuat dan
panas yang tinggi inilah, karbon berubah menjadi kristal-kristal intan
yang sangat berharga.